Pemeriksaan dan Perbaikan Sistem Kelistrikan

A. Pemeriksaan dan Perbaikan Sistem Kelistrikan

a. Peringatan Umum

1) Baterai mengeluarkan gas-gas yang gampang meledak, jauhkan dari api dan sediakan ventilasi yang cukup ketika mengisi baterai.

2) Hindari kulit atau mata kontak dengan cairan elektrolit baterai karena dapat menyebabkan luka bakar.

3) Selalu matikan kunci kontak sebelum memutuskan hubungan antar komponen listrik.

4) Baterai dapat rusak jika diisi kelebihan atau kurang, apalagi dibiarkan tidak diisi dalam jangka waktu yang lama.

5) Isilah baterai setiap dua minggu sekali untuk mencegah pembentukan sulfat, karena tegangan (voltage) baterai akan berkurang sendiri pada saat sepeda motor tidak digukan

b. Sambungan (Konektor)

1) Bila memasang sambungan, tekanlah sampai terdengar bunyi “klik”.

2) Periksa sambungan dari kerenggangan, keretakan, kerusakan pembungkusnya, karat, kotoran dan uap air.

c. Sekering (Fuse)
1) Jangan pergunakan sekering yang kemampuannya berbeda.

2) Jangan mengganti sekering dengan kawat atau sekering yang
imitasi (tiruan).

3)
Jika sekering putus, jangan langsung menggantinya, tapi
periksa dulu penyebabnya.

Gambar 5.1 Sekering

d. Menggunakan Multi meter
1) Pastikan posisi skala pengukuran sesuai dengan komponen
yang akan diukur. Gunakan posisi skala pengukuran; a)
tahanan untuk mengukur tahanan, b) tegangan DC untuk
mengukur tegangan DC (arus searah), c) tegangan AC untuk
mengukur tegangan AC (rus bolak-balik). Mengkur dengan
posisi skala pengukuran yang salah dapat merusak multi
meter.
2) Pastikan kabel-kabel tester positif (+) dan negatif (-) tepat
pada posisinya. Bila penempatan salah dapat merusak multi
meter.

Gambar 5.2 Multi meter digital

3) Bila tegangan dan besarnya arus belum diketahui, mulailah
skala pengukuran dengan skala tertinggi.

4) Jika melakukan pengukuran tahanan dengan multi meter
analog (multi meter biasa yang menggunakan jarum penunjuk
bukan multi meter digital), lakukan kalibrasi (penyetelan ke 0
..) sebelum melakukan pengukuran tahanan dan setelah
mengganti posisi skala pengukuran tahanan.

5)
Posisikan saklar pemilih ke posisi OFF setelah selesai
menggunakan multi meter.

e. Perletakan Kabel-Kabel
1) Kabel listrik atau kabel lain yang longgar dapat menjadi
sumber kerusakan. Periksalah kembali setelah melakukan
pemasangan untuk memastikan kabel sudah terpasang
dengan baik.
2) Pasang kabel pada rangka dengan menggunakan gelang
pemasangan pada tempat yang ditentukan. Kencangkan
gelang sedemikian rupa sehingga hanya bagian-bagian yang
berisolasi yang menyentuh kabel.

Gambar 5.3 Pemasangan gelang kabel

3) Tempatkan susunan kabel listrik sedemikian rupa sehingga
tidak menyentuh ujung atau sudut-sudut yang tajam.

4) Jangan gunakan kabel listrik dengan isolasi yang rusak.
Perbaiki terlebih dahulu dengan membalutnya dengan pita
isolasi atau ganti dengan yang baru.

5)
Jauhkan susunan kabel-kabel listrik dari bagian yang panas,
seperti knalpot.

6) Jepit (clamp) susunan kabel sedemikian rupa sehingga tidak
terlalu terjepit atau longgar.

Gambar 5.4 Pemasangan penjepit kabel

7) Setelah pemasangan, periksa bahwa susunan kabel listrik
tidak terpuntir atau tertekuk.

8) Jangan menekuk atau memuntir kabel pengontrol (misalnya
kabel gas) karena dapat menyebabkan kabel pengontrol tidak
dapat bekerja dengan lancar dan mungkin macet atau
tersangkut.

9) Susunan kabel yang dipasang sepanjang stang kemudi tidak
boleh ditarik kencang, atau dipsang terlalu longgar,
terjepit/tertekuk atau terganggu oleh bagian-bagian
disekitarnya pada semua posisi kemudi.

10) Tempatkan kabel-kabel pada jalurnya dengan tepat. Gambargambar
berikut ini adalah contoh penempatan kabel-kabel
pada jalur kabel yang ada pada salah satu merek sepeda
motor.

Gambar 5.5 Peletakan kabel-kabel (1)

Gambar 5.6 Peletakan kabel-kabel (2)

Gambar 5.7 Peletakan kabel-kabel (3)

Gambar 5.8 Peletakan kabel-kabel (4)

B. Perawatan Berkala Sistem Kelistrikan
Jadwal perawatan berkala sistem kelistrikan sepeda motor yang
dibahas berikut ini adalah berdasarkan kondisi umum, artinya sepeda
motor dioperasikan dalam keadaan biasa (normal). Pemeriksaan dan
perawatan berkala sebaiknya rentang operasinya diperpendek sampai
50% jika sepeda motor dioperasikan pada kondisi jalan yang berdebu
dan pemakaian berat (diforsir).

Tabel 1 di bawah ini menunjukkan jadwal perawatan berkala
sistem kelistrikan yang sebaiknya dilaksanakan demi kelancaran dan
pemakaian yang hemat atas sepeda motor yang bersangkutan.
Pelaksanaan servis dapat dilaksanakan dengan melihat jarak tempuh
atau waktu, tinggal dipilih mana yang lebih dahulu dicapai.

Tabel 1. Jadwal perawatan berkala (teratur) sistem kelistrikan

No Bagian Yang
Diservis Tindakan setiap dicapai jarak tempuh
1 Baterai (Aki) Periksa baterai setelah menempuh jarak
500 km, 2.000 km, 4.000 km dan
seterusnya setiap 1.000 km atau setiap 1
bulan
2 Busi Periksa dan bersihkan busi setelah
menempuh jarak 500 km, 2.000 km, 4.000
km dan seterusnya ganti setiap 5.000 km
3 Platina (khusus
pengapian dengan
platina)
Periksa, bersihkan, stel atau ganti bila
perlu setelah menempuh jarak 500 km,
1.500 km, 5.000 km, dan seterusnya setiap
5.000 km
4 Saklar lampu rem Periksa dan stel atau ganti (bila perlu)
saklar lampu rem setelah menempuh jarak
500 km, 2.000 km, 4.000 km, 8.000 km
dan seterusnya setiap 2.000 km
5 Arah sinar lampu
depan
Periksa dan stel (bila perlu) arah sinar
lampu setelah menempuh jarak 500 km,
2.000 km, 4.000 km, 8.000 km dan
seterusnya setiap 2.000 km
6 Lampu-lampu dan
klakson
Periksa dan stel (bila perlu) saklar lampu
rem setelah menempuh jarak 500 km,
2.000 km, 4.000 km, 8.000 km dan
seterusnya setiap 2.000 km

C. Sumber Kerusakan Sistem Kelistrikan
Tabel 2 di bawah ini menguraikan permasalahan atau kerusakan
sistem kelistrikan yang umum terjadi pada sepeda motor, untuk diketahui
kemungkinan penyebabnya dan menentukan jalan keluarnya atau
penanganannya (solusinya).

Tabel 2. Sumber-sumber kerusakan sistem kelistrikan

Permasalahan Kemungkinan Penyebab Solusi
(Jalan Keluar)
Terdapat
selubung putih
(sulfasi) pada
baterai
1. Kapasitas cairan yang
menurun telah bereaksi dan
berat jenisnya (BJ) rendah
atau tinggi
1. Isi cairan baterai
sampai batas yang
ditentukan dan
sesuaikan BJ-nya.
2. Kapasitas pengisian yang
terlalu tinggi atau rendah (bila
baterai tidak terpakai maka
harus di-charge (disetrum)
minimal sebulan sekali untuk
menghindari sulfasi)
2. Ganti (bila perlu)
3. Baterai tersimpan lama di
tempat yang dingin
3. Ganti bila sudah
terlalu usang
Kapasitas
baterai cepat
sekali menurun
1. Sistem/cara pengisian tidak
benar
1. Periksa rangkaian
sistem pengisian,
stator,
regulator/rectifier.
Lakukan penyetelan
sistem pengisian
(bila perlu)
2. Plat-plat sel baterai sudah tidak
aktif (bagus) karena kelebihan
pengisian (overcharging)
2. Ganti baterai dan
perbaiki sistem
pengisian
3. Terjadi korslet (short circuit)
karena banyaknya endapan
yang disebabkan oleh BJ
cairan (elektrolit) yang terlalu
tinggi
3. Ganti baterai
4. BJ elektrolit yang terlalu rendah 4. Strum baterai dan
sesuaikan BJ-nya
5. Telah terjadi reaksi pada
elektrolit baterai
5. Ganti elektrolit lalu
lakukan
penyetruman dan
sesuaikan BJ-nya
6. Batarei sudah terlalu lama 6. Ganti baterai

223

Permasalahan Kemungkinan Penyebab
Solusi
(Jalan Keluar)
Daya kerja
baterai kurang
bagus (terputusputus)
1. Terminal (kutub) baterai kotor 1. Bersihkan
2. Cairan elektrolit tidak murni
atau BJ nya terlalu tinggi
2. Ganti elektrolit
baterai lalu lakukan
penyetruman
baterai dan
sesuaikan BJ-nya
Tombol (saklar)
starter tidak
berfungsi
1. Baterai lemah 1. Perbaiki atau ganti
2. Saklar (tombol) rusak 2. Ganti
3. Karbon brush (karbon sikat)
habis
3. Ganti
4. Starter relay (solenoid) rusak 4. Perbaiki atau ganti
Pengisian tidak
stabil
1. Rangkaian kabel sistem
pengisian ada yang longgar
atau korslet
1. Perbaiki atau ganti
2. Bagian dalam generator
(alternator) korslet
2. Ganti
3. Regulator/retifier rusak 3. Ganti
Pengisian
berlebihan
(overcharging)
1. Rangkaian dalam baterai ada
yang korslet
1. Ganti
2. Hubungan massa (ground)
regulator/rectifier kurang
bagus/kendor
2. Bersihkan dan
perbaiki hubungan
massa
3. Resistor dalam
regulator/rectifier rusak
3. Ganti
Pengisian di
bawah
spesifikasi
(ketentuan)
1. Kabel tidak terawat atau
rangkaian terbuka atau
sambungan terminal lepas
1. Perbaiki atau ganti
bila perlu
2. Kumpaan stator dalam
generator korslet
2. Ganti
3. Regulator/rectifier rusak 3. Ganti
4. Plat-plat sel baterai rusak atau
elektrolitnya kurang
4. Ganti atau tambah
elektrolit jika hanya
kurang elektrolitnya

Permasalahan Kemungkinan Penyebab Solusi
(Jalan Keluar)
Bunga api busi
lemah atau tidak
ada
1. CDI atau ignition coil
(kumparan pengapian) rusak
1. Ganti
2. Pick up coil rusak 2. Ganti
3. Busi rusak 3. Ganti
4. Sambungan kabel sistem
pengapian longgar
4. Perbaiki
sambungan
5. Magnet rusak (khususnya
sepeda motor 2 langkah/tak)
5. Ganti
Busi cepat mati
karena tertutup
arang
1. Campuran sistem bahan bakar
dan udara terlalu gemuk/kaya
1. Perbaiki atau stel
karburator
2. Penyetelan putaran idle
(langsam) terlalu tinggi
2. Perbaiki atau stel
karburator
3. Saringan udara kotor/tersumbat 3. Bersihkan atau
ganti bila perlu
4. Menggunakan jenis busi terlalu
dingin
4. Ganti dengan jenis
yang lebih panas
5. Mutu (kualitas) bensin jelek 5. Ganti
Busi terlalu
panas atau
hangus
(elektroda
terbakar)
1. Jenis busi terlalu panas 1. Ganti dengan jenis
busi dingin
2. Busi kendor 2. Perbaiki
(kencangkan)
3. Campuran sistem bahan bakar
dan udara terlalu kurus/miskin
3. Perbaiki atau stel
karburator
4. Mesin terlalu panas (overheat) 4. Periksa atau stel
kembali
Busi cepat
menjadi kotor
(cepat mati)
1. Piston atau silinder aus 1. Ganti/oversize
2. Ring piston aus 2. Ganti
3. Kerenggangan bos klep (valve
guide) dan tangkai klep (valve
stem) sudah aus (terlalu
longgar)
3. Ganti
4. Sil oli (oil seal) valve stem
rusak/aus
4. Ganti

225

D. Mencari dan Mengatasi Kerusakan Baterai
Tegangan baterai menurun dengan cepat
Periksa kelengkapan yang Dipasang Lepas perlengkapan
memerlukan tenaga listrik tersebut
Tidak dipasang

Periksa kebocoran arus Dipasang – Hubungan pendek
pada kabel

Periksa tegangan pengisian
antara terminal baterai
Periksa hubungan sel-selnya
Periksa tegangan generator
tanpa beban
- Sambungan
Tidak bocor

terlepas/longgar

Baik – Baterai lemah
(soak)

-
Kondisi pemakaian
tidak normal
Tidak baik

Tidak Kumparan generator
berhubungan rusak/sambungan
lepas

Bagus

Tidak baik Magnet rusak

Bagus

Periksa regulator/rectifier Tidak baik
Regulator/rectifier
rusak

Bagus

Periksa kabel-kabel

dipasang -Kabel body korslet

-
Sambungan tidak
baik
Baterai
rusak
Baik
Diagram 1. Tahapan mencari dan
mengatasi kerusakan baterai

E.
Pemeriksaan dan Perbaikan Baterai
a.
Periksa kerusakan tempat baterai atau plat terhadap adanya
pembentukan sulfat (selubung putih).
Ganti baterai jika sudah rusak atau telah mengalami sulfasi.

b.
Periksa tinggi permukaan elektrolit pada tiap sel, apakah masih
berada diantara batas bawah (lower level) dan batas atas (upper
level). Jika rendah, tambah air suling agar tinggi permukaan
mencapai batas teratas (upper level).
c.
Periksa berat jensi (BJ) setiap sel dengan menghisap cairan
elektrolit ke dalam hydrometer.
Berat jenis:
Muatan penuh : 1,270 – 1,290 pada suhu 20oC
Muatan kosong : di bawah 1, 260 pada suhu 20oC
Gambar 5.9 Pembacaan berat jenis elektrolit
menggunakan hydrometer

Catatan:

1) Berat jenis akan berubah sekitar 0,007 per 100C perubahan
suhu. Perhatikanlah suhu sekitar saat melakukan pengukuran.

2)
Jika perbedaan berat jenis antara sel-sel lebih dari 0,01, isi
ulang (strum) baterai. Jika perbedaanya terlampau besar,
ganti baterai.

3) Baterai juga harus diisi kembali apabila berat jenisnya kurang
dari 1,230.

4) Pembacaan tinggi pada permukaan cairan pada hydrometer
harus dilakukan secara horisontal.

d. Ukur tegangan baterai menggunakan multimeter
Standar tegangan (voltage) untuk baterai bebas perawatan (free
maintanenace):
Bermuatan penuh : 13,0 – 13,2 V
Bermuatan kurang : di bawah 12, 3 V

Gambar 5.10 Pengukuran tegangan baterai

F.
Pemeriksaan dan Perbaikan Sistem Starter
a.
Pemeriksaan Sikat (Brush)
1)
Periksa sikat-sikat terhadap kerusakan atau keretakan. Bila
sudah rusak, ganti dengan yang baru.

2)
Ukur panjang setiap sikat. Jika sudah di bawah batas servis
(limit), ganti dengan yang baru.

Batas servis : 4,0 mm

Gambar 5.11 Pengukuran panjang sikat

b. Pemeriksaan Komutator dan Armature
1) Periksa lempengan-lempengan komutator terhadap adanya
perubahan warna atau kotor.
a) Bila berubah warna, ganti motor starter karena telah terjadi
hubungan singkat (korslet).
b) Bila kotor permukaannya, bersihkan dengan kertas gosok
yang halus (sekitar nomor 400) kemudian bersihkan

dengan lap kering.
Gambar 5.12 Pemeriksaan komutator dan armature

2)
Periksa dengan menggunakan multimeter (skala ohmmeter)
terhadap adanya kontinuitas diantara tiap lempengan
(segmen) komutator (lihat gambar di atas). Bila tidak ada
kontinuitas (hubungan), ganti armature.

3) Periksa dengan menggunakan multimeter (skala ohmmeter)
terhadap adanya kontinuitas diantara masing-masing
lempengan (segmen) komutator dengan poros (as) armature
(lihat gambar di atas). Bila tidak ada kontinuitas (hubungan),
berarti baik dan bila ada kontinuitas, ganti armature.

c. Pemeriksaan Saklar Relay Starter/Solenoid (Starter Relay
Switch)
1) Periksa bahwa saklar relay starter terdengar bunyi “klik” saat
kunci kontak ON dan tombol starter ditekan. Jika tidak
terdengar bunyi tersebut, lepaskan konektor lalu periksa
terhadap kontinuitas dan tegangan antara terminalterminalnya.

Gambar 5.13 Posisi relay starter pada salah
satu sepeda motor

2) Contoh pemeriksaan kontinuitas relay starter pada Honda
Supra PGM-FI
Periksa terhadap kontinuitas menggunakan multimeter (skala
ohmmeter) antara kabel kuning/merah dan massa.
Jika ada kontinuitas (hubungan), berarti relay starter

baik/normal.
Gambar 5.14 Pemeriksaan kontinuitas relay starter

Catatan:
Warna kabel setiap produk/merek sepeda motor kemungkinan
berbeda, namum prosedur pemeriksaanya pada dasarnya sama.

3) Contoh pemeriksaan teganganrelay starter pada Honda Supra
PGM-FI
Ukur tegangan relay starter menggunakan multi meter (skala
voltmeter) antara kabel hitam (+) dan massa.
Jika tegangan (voltage) baterai pada multi meter hanya
muncul ketika kunci kontak posisi ON, berarti relay starter

baik/normal.

Gambar 5.15 Pemeriksaan tegangan relay starter

G.
Pemeriksaan dan Perbaikan Sistem Pengisian
a.
Pemeriksaan Tegangan (voltage) pengisian
1) Hidupkan mesin sampai mencapai suhu kerja normal.

2)
Ukur tegangan baterai menggunakan multimeter (skala
voltmeter) seperti pada gambar di bawah:

Standar tegangan pengisian pada putaran 5.000 rpm:

13,0 – 16, 0 V (Suzuki)
14,0 – 15,0 V (Honda)
14,5 V (Yamaha)

3)
Baterai dalam keadaan normal jika tegangan yang diukur
sesuai standar. Lihat bagian 3 (menemukan sumber-sumber
kerusakan) untuk menentukan kemungkinan penyebab yang
terjadi jika hasil tegangan pengisian tidak sesuai dengan
standar.

Gambar 5.16 Pengukuran tegangan pengisian

Catatan:

a) Jangan memutuskan hubungan baterau kabel manapun juga
pada sistem pengisian tanpa mematikan kunci kontak terlebih
dahulu karena bisa merusak alat uji dan komponen listrik.

b)
Pastikan baterai berada dalam kondisi baik sebelum
melakukan pemeriksaan sistem pengisian.

b. Pemeriksaan Kebocoran Arus
1) Matikan kunci kontak (putar ke posisi OFF) lalu lepaskan kabel
negatif dari terminal baterai.
2) Hubungkan jarum positif (+) ampermeter ke kabel negatif
baterai (massa) dan jarum negatif (-) ke terminal negatif
baterai seperti gambar di bawah:
Standar kebocoran arus : maksimum 1 A
3) Jika kebocoran arus melebihi standar yang ditentukan,
kemungkinan terjadi korslet pada rangkaian sistem pengisian.
Periksa dengan melepas satu persatu sambungansambungan
pada rangkaian sistem pengisian sampai jarum
penunjuk ampermeter tidak bergerak.

Gambar 5.17 Pengukuran kebocoran arus

c. Pemeriksaan Kumparan Generator (Alternator)
1) Periksa (ukur) dengan menggunakan multimeter (skala
ohmmeter) tahanan koil/kumparan pengisian (charging coil)
dengan massa seperti gambar di bawah:

Gambar 5.18 Pengukuran koil pengisian

Standar tahanan kumparan pengisian (pada suhu 200C):

0,2 – 1,5 ohm (..) untuk Honda Astrea
0,3 – 1,1 .
(Honda Supra PGM-FI)
0,6 – 1,2 .. (Suzuki Shogun)
0,32 – 0,48 .. (Yamaha Vega)

2)
Jika hasil pengukuran terlalu jauh dari standar yang
ditentukan, ganti kumparan stator alternator (koil pengisian).
Catatan:

a) Warna kabel koil pengisian setiap merek sepeda motor
berbeda, lihat buku manual yang bersangkutan untuk lebih
jelasnya.

b) Pengukuran tahanan tersebut bisa dilakukan dengan
kumparan stator dalam keadaan terpasang.

d. Pemeriksaan Regulator/Rectifier
1) Lepaskan konektor regulator/rectifier dan periksa konektor
terhadap terminal-terminal yang longgar atau berkarat.
2) Periksa (ukur) dengan menggunakan multimeter (skala
ohmmeter) tahanan pada terminal konektor regulator/rectifier
seperti gambar di bawah:

Gambar 5.19 Pengukuran regulator/rectifier

Catatan:

a) Warna kabel pada konektor regulator/rectifier setiap merek
sepeda motor kemungkinan berbeda, lihat buku manual
yang bersangkutan untuk lebih jelasnya.

b)
Standar tahanan (spesifikasi) pada konektor
regulator/rectifier setiap merek sepeda motor kemungkinan
berbeda, lihat buku manual yang bersangkutan untuk lebih
jelasnya.

c) Tabel 3 berikut ini adalah contoh spesifikasi tahanan dan
tegangan (voltage) regulator/rectifier sepeda motor Honda
Tiger
Tabel 3. Contoh spesifikasi tahanan dan
tegangan (voltage) regulator/rectifier
sepeda motor Honda Tiger

3)
Jika tahanan tidak sesuai dengan spesifikasi, ganti
regulator/rectifier dengan yang baru.

H.
Pemeriksaan dan Perbaikan Sistem Pengapian
a.
Pemeriksaan Igntion Coil (Koil Pengapian) dengan Electro
Tester
1)
Posisikan tombol “power” tester pada posisi OFF

2) Hubungkan kabel-kabel tester seperti terlihat pada gambar di
bawah.

Gambar 5.20 Pemeriksaan koil pengapian
dengan electro tester

3) Arahkan tombol selector ke “IG COIL”.
4) Posisikan tombol “power” ke posisi ON.
5) Amati pancaran (loncatan) bunga api listrik pada tester.

Pancaran harus kuat dan berkelanjutan. Biarkan pengetesan
ini berjalan sekitar 5 menit untuk memastikan koil pengapian
bekerja dengan baik.

a) Loncatan bunga api pengapian yang baik adalah berjarak
sekitar 8 mm.
b) Bila tidak terjadi pengapian atau pengapian berwarna
orange, berarti keadaan koil pengapian kurang baik.

b. Pemeriksaan Igntion Coil (Koil Pengapian) dengan Multimeter
1) Periksa tahanan kumparan primer koil pengapian
menggunakan multimeter (skala ohmmeter x 1..) antara
terminal kabel primer dengan massa.
Standar :
0,5 – 0,6 .
pada suhu 200C(Honda)
0,32 – 0,48 .. suhu 200C (Yamaha)
0,1 – 0,2 .. suhu 200C (Suzuki)
2) Periksa tahanan kumparan sekunder koil pengapian
menggunakan multimeter (skala ohmmeter x k..) antara
terminal kabel primer dengan tutup busi seperti gambar di
bawah.
Standar :
11,5 – 14,5 k.. pada suhu 200C (Honda)
10 k.. pada suhu 200C (Yamaha)
14 – 18 k.
pada suhu 200C (Suzuki)

Gambar 5.21 Pemeriksaan tahanan kumparan sekunder

3)
Periksa tahanan kumparan sekunder koil pengapian
menggunakan multimeter (skala ohmmeter x k.. ) antara
terminal kabel primer dengan kabel busi/kabel tegangan tinggi
(tanpa tutup busi) seperti gambar di bawah:
Standar :

7,8 – 8,2 k.. pada suhu 200C (Honda)
5,68 – 8,52 k.. pada suhu 200C (Yamaha)

Gambar 5.22 Pemeriksaan tahanan kumparan sekunder

Jika hasil-hasil pengukuran di atas tidak sesuai dengan standar
yang telah ditentukan, ganti koil pengapian.

c. Pemeriksaan Unit CDI
1) Periksa unit CDI terhadap adanya hubungan yang longgar atau
terminal-terminal yang berkarat.
2) Periksa tahanan diantara terminal-terminal konektor unit CDI
seperti gambar di bawah:

Gambar 5.23 Pemeriksaan tahanan unit CDI

Catatan:

a) Warna kabel pada konektor unit CDI setiap merek sepeda
motor kemungkinan berbeda, lihat buku manual yang
bersangkutan untuk lebih jelasnya.

b) Standar tahanan (spesifikasi) pada konektor unit CDI setiap
merek sepeda motor kemungkinan berbeda, lihat buku
manual yang bersangkutan untuk lebih jelasnya.

c)
Tabel berikut ini adalah contoh spesifikasi tahanan dan unit
CDI sepeda motor Honda Astrea

Tabel 4. Contoh spesifikasi tahanan dan
unit CDI sepeda motor Honda Astrea

Keterangan tabel :

BI/Y = Hitam/kuning G/W = Hijau/putih
BI/W = Hitam/putih BI/R = Hitam/merah
Lb/Y = Biru muda/kuning

Jika hasil-hasil pengukuran di atas tidak sesuai dengan
standar yang telah ditentukan, ganti unit CDI.

d. Pemeriksaan Ignition Timing (Saat Pengapian)
1) Panaskan mesin sampai mencapai suhu kerja normal lalu
matikan mesin.
2) Periksa saat pengapian dengan melepaskan tutup lubang
pemeriksaan tanda pengapian terlenbih dahulu.
3) Pasangkan timing light ke kabel busi.
4) Hidupkan mesin pada putaran idle/stasioner.
Putaran stasioner : 1400± 100 rpm
5) Saat pengapian sudah tepat jika tanda “F” bertapatan (sejajar)
dengan tanda penyesuai pada tutup bak mesin sebelah kiri
seperti terlihat pada gambar di bawah:

Gambar 5.24 Tanda saat pengapian pada
bak mesin sebelah kiri

e. Pemeriksaan Busi
1) Periksa endapan karbon pada busi. Bila terdapat endapan
karbon, bersihkan busi dengan mesin pembersih busi atau
menggunakan alat yang lancip. (Lihat pembahasan pada Bab
IV bagian H.4 untuk melihat analisis busi yang lebih detil).
2) Ukur celah (gap) busi menggunakan feeler gauge. Bila

celahnya tidak sesuai spesifikasi, stel celah busi tersebut.

Standar celah busi: 0,6 – 0,8 mm

Gambar 5.25 Celah (gap) busi

9.
Pemeriksaan dan Perbaikan Sistem Penerangan
a.
Pemeriksaan Saklar (Switch)
1) Periksa sambungan antar terminal yang ada switch (atau
konektor switch) dengan menggunakan multimeter (skala
ohmmeter x 1..) untuk menentukan benar atau baik tidaknya
sambungan.

2)
Tanda “0 0” menunjukkan terminal yang memiliki
hubungan (kontinuitas) yaitu sirkuit/rangkaian tertutup pada
posisi switch yang ditunjukkan (yang bersangkutan).

3) Jika terdapat sambungan yang kurang baik atau tidak ada
hubungan (kontinuitas), perbaiki atau ganti (bila perlu) switch
tersebut.
Catatan:

a) Warna kabel pada switch (konektor switch) setiap merek
sepeda motor kemungkinan berbeda, lihat buku manual
yang bersangkutan untuk lebih jelasnya.

b) Bentuk switch setiap merek sepeda motor kemungkinan
berbeda, lihat buku manual yang bersangkutan untuk
lebih jelasnya.

c)
Tabel berikut ini adalah contoh pemeriksaan switch
(saklar) pada sepeda motor Honda Supra PGM-FI

Gambar 5.26 Peta sambungan saklar
kanan stang stir/kemudi

Gambar 5.27 Peta sambungan saklar
kiri stang stir/kemudi

Gambar 5.28 Peta sambungan
saklar kunci kontak

Keterangan warna :

Y/R = Kuning/merah W = Putih
Br = Coklat BI = Hitam
Bu = Biru G = Hijau
Lb = Biru muda Gr = Abu-abu
Lg = Hijau muda

b. Pemeriksaan Lampu Kepala
Jika lampu kepala (depan) tidak menyala, maka:
1) Periksa bola lampu, ganti bila bola lampu putus.
2) Periksa tahanan lighting coil (kumparan penerangan atau spul

lampu).

Standar tahanan dan warna kabel kumparan penerangan
berbeda setiap merek sepeda motor, lihat buku manual
masing-masing.
Jika hasil pengukuran terlalu dari standar, ganti kumparan
penerangan atau stator alternator.

3) Periksa saklar (switch) lampu.

Lihat bagian 9.a tentang pemeriksaan saklar.

4) Periksa saklar lampu jauh dekat (dimmer switch).

Untuk memeriksa tahanannya (kontinuitas-nya), lihat bagian

9.a tentang pemeriksaan saklar.
Untuk memeriksa tegangannya:
a) Hubungkan multimeter (skala voltmeter) terminal (+) ke
konektor lampu lauh maupun lampu dekat secara
bergantian (tergantung posisi saklar dimmer tersebut).

b) Hubungkan terminal (-) multimeter ke massa atau kabel
yang menuju massa.

Gambar 5.29 Konektor lampu depan

c) Hidupkan mesin
d) Geser saklar lampu ke posisi ON
e) Geser saklar dimmer ke posisi lampu dekat atau ke lampu

jauh bergantian.

f)
Multimeter harus menunjukkan tegangan sebesar
tegangan baterai (12 V) pada sambungan konektor bola
lampu depan tersebut.

Jika tegangan yang diperoleh di luar spesifikasi, terdapat
kerusakan rangkaian kabel dari kunci kontak ke
sambungan soket tersebut.

5) Periksa sambungan kabel.
Periksa seluruh sambungan kabel sistem penerangan. Perbaiki
jika ada yang rusak, terputus, longgar dan sebagainya.

6) Periksa kondisi tiap sirkuit/rangkaian sistem penerangan.

c. Pemeriksaan Lampu Sein
Jika lampu tanda belok (sein) tidak menyala, maka:
1) Periksa bola lampu, ganti bila bola lampu putus.
2) Periksa sekering, ganti jika sekering terbakar atau putus.
Periksa sambungan kabel rangkaian sistem lampu sein.
Perbaiki jika ada yang rusak, terputus, longgar dan sebagainya.
3) Periksa relay (flasher) lampu sein
Jika seluruh sambungan dan kabel sistem lampu sein masih
bagus, periksa relay lampu sein dengan cara menghubungsingkatkan
antara terminal yang ada dalam lampu sein
menggunakan kabel jumper. Kemudian periksa nyala lampu
sein dengan memposisikan saklar lampu sein ke ‘ON”. Jika
lampu sein menyala, berarti relay rusak dan harus diganti
dengan yang baru.

d. Pemeriksaan Klakson
Jika klakson tidak berbunyi, maka:
1) Periksa saklar/tombol klakson.
Lihat bagian 9.a tentang pemeriksaan saklar.
2) Periksa tegangan yang menuju klakson, dengan cara:
a) Periksa dengan menggunakan multimeter (skala voltmeter),
yaitu terminal (+) multimeter ke kabel di terminal klakson
(kabel yang mendapat arus dari baterai) dan terminal (-)
multimeter ke massa.
b) Putar kunci kontak ke posisi ON
c) Multimeter harus menunjukkan tegangan sebesar tegangan
baterai (12 V) pada pengukuran tersebut.
Jika tegangan yang diperoleh di luar spesifikasi, terdapat
kerusakan rangkaian kabel dari kunci kontak ke klakson.

3) Periksa klakson, dengan cara:
a) Periksa dengan menggunakan multimeter (skala
voltmeter),yaitu terminal (+) multimeter ke terminal klakson
(terminal yang kabelnya menuju massa) dan terminal (-)
multimeter ke massa.
b) Putar kunci kontak ke posisi ON
c) Multimeter harus menunjukkan tegangan sebesar tegangan
baterai (12 V) pada pengukuran tersebut.
Jika tegangan yang diperoleh di luar spesifikasi, terdapat
kerusakan pada klakson.Ganti klakson dengan yang baru.

4) Cara lain memeriksa klakson adalah dengan menghubungkan
langsung baterai 12V ke terminal klakson seperti terlihat pada
gambar di bawah ini:

Gambar 5.30 Pemeriksaan klakson

5) Jika klakson berbunyi nyaring, maka klakson normal.

e. Pemeriksaan Pengukur Tinggi Permukaan Bensin
1) Buka/lepaskan pengukur tinggi permukaan bensin.
2) Periksa tahanan dengan menggunakan multimeter (skala
ohmmeter) pada setiap posisi pelampung.

Gambar 5.31 Pengukur tinggi permukaan bensin

3) Standar tahanan masing-masing terminal pengukur tinggi
permukaan bensin setiap merek sepeda motor berbeda. Lihat
buku manual yang bersangkutan untuk lebih jelasnya.

4)
Jika nilai tahanan yang diukur tidak sesuai dengan spesifikasi,
ganti satu set pengukur tinggi permukaan bensin tersebut.

SOAL-SOAL LATIHAN BAB V

1.
Kenapa pada sepeda motor berbahan bakar bensin diperlukan
sistem pengapian?
2.
Apa yang dimaksud dengan pengapian terlalu maju atau terlalu
mundur?
3.
Jelaskan perbedaan antara sistem pengapian CDI – DC dengan
CDI – AC!
4.
Jelaskan bagaimana terjadinya tegangan induksi pada koil
pengapian!
5.
Kenapa kita harus memperhatikan tingkat panas busi? Apa efek
yang ditimbulkan jika terjadi kesalahan pemasangan tipe busi
yang mempunyai tingkat panas berbeda?

Leave a Reply