Kelistrikan

KONSEP KELISTRIKAN

1. Pendahuluan

Setiap sepeda motor dilengkapi dengan beberapa rangkaian
sistem kelistrikan. Umumnya sebagai sumber listrik utama sering
digunakan baterai, namun ada juga yang menggunakan flywheel magnet
(alternator) yang menghasilkan pembangkit listrik arus bolak-balik atau
AC (alternating current). Bagian-bagian yang termasuk sistem kelistrikan
pada sepeda motor antara lain; sistem starter, sistem pengapian (ignition
system), sistem pengisian (charging system), dan sistem penerangan
(lighting system) seperti lampu kepala/depan (headlight), lampu belakang
(tail light), lampu rem (brake light), lampu sein/tanda belok (turn signal
lights), klakson (horn) dan lampu-lampu instrumen/indikator.

Sebelum pembahasan sistem kelistrikan tersebut, terlebih dahulu
akan dijelaskan beberapa komponen elektronik, konsep dan simbol
kelistrikan yang mendukung terhadap cara kerja sistem kelistrikan pada
sepeda motor. Selain itu, akan dibahas pula beberapa contoh konkrit
aplikasi/penggunaan komponen-komponen elektronika pada sepeda
motor.

2. Arus Listrik, Tegangan dan Tahanan
Untuk lebih memahami konsep tentang listrik, maka listrik
diilustrasikan sebagai air karena memilki banyak kesamaan
karakteristiknya. Gambar 3.1 di bawah ini menunjukkan dua buah wadah
yang terhubung satu dengan lainnya melalui sebuah pipa yang
dipersempit untuk menghambat aliran.

Gambar 3.1 Ilustrasi karakteristik antara air dengan listrik

Tegangan (voltage) dapat diibaratkan beda ketinggian diantara
kedua wadah, yang menyebabkan terjadinya aliran air. Makin besar
perbedaan ketinggian air, makin kuat keinginan air untuk mengalir. Arus
listrik diibaratkan jumlah/volume air yang mengalir setiap detiknya,
melalui pipa. Sedangkan resistansi (tahanan) diibaratkan semua
hambatan yang dijumpai air saat ia mengalir di dalam pipa. Makin besar
pipa, makin kecil hambatan alirnya, sehingga makin besar arus air yang
mengalir. dan begitu sebaliknya.

Air yang mengalir pada suatu pipa dipengaruhi oleh besarnya
dorongan yang menyebabkan air tersebut mengalir dan besarnya
hambatan pada pipa. Besarnya dorongan untuk mengalir ditimbulkan
oleh perbedaan ketinggian air di kedua wadah, dan dalam kelistrikan
disebut tegangan atau beda potensial.

Besarnya hambatan pada pipa disebabkan banyak faktor, yaitu;
mutu permukaan dalam pipa, dan luas penampang pipa serta panjang
pipa.

Mutu permukaan pipa x panjang pipa
Hambatan alir = ————————————————–
Panjang pipa

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditentukan beberapa
persamaan karakteristik yang ada dalam kelistrikan, yaitu:

a.
Hambatan alir sama dengan Resistansi ( R )
b.
Mutu permukaan dalam pipa sama dengan nilai hambat jenis
(specific resistivity) dari kawat penghantar, dilambangkan dengan
. (rho), yaitu nilai hambatan yang timbul akibat jenis bahan yang
digunakan sebagai penghantar.
c.
Luas penampang pipa sama dengan luas penampang kawat
penghantar, dilambangkan dengan A.
d.
Panjang pipa sama dengan panjang penghantar, dan
dilambangkan dengan l.
Arus listrik merupakan sejumlah elektron yang mengalir dalam tiap
detiknya pada suatu penghantar. Banyaknya elektron yang mengalir ini
ditentukan oleh dorongan yang diberikan pada elektron-elektron dan
kondisi jalan yang akan dilalui elektron-elektron tersebut. Arus listrik
dilambangkan dengan huruf I dan diukur dalam satuan Ampere.

Tegangan listrik (voltage) dapat diyatakan sebagai dorongan atau
tenaga untuk memungkinkan terjadinya aliran arus listrik. Tegangan listrik
dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a.
Tegangan listrik searah (direct current /DC)
b.
Tegangan listrik bolak-balik (alternating current / AC)
Tegangan listrik DC memungkinkan arus listrik mengalir hanya
pada satu arah saja, yaitu dari titik satu ke titik lain dan nilai arus yang
mengalir adalah konstan/tetap. Sedangkan tegangan listrik AC
memungkinkan arus listrik mengalir dengan dua arah, pada tiap-tiap
setengah siklusnya. Nilainya akan berubah-ubah secara periodik.

Gambar 3.2 Arus listrik AC

Gambar 3.3 Arus listrik DC

Resistansi (tahanan) dapat diartikan sebagai apapun yang
menghambat aliran arus listrik dan mempengaruhi besarnya arus yang
dapat mengalir. Pada dasarnya semua material (bahan) adalah konduktor
(penghantar), namun resistansi-lah yang menyebabkan sebagian material
dikatakan isolator, karena memiliki resistansi yang besar dan sebagian
lagi disebut konduktor, karena memiliki resistansi yang kecil.

Resistansi ada pada kawat, kabel, body atau rangka sepeda
motor, namun nilainya ditekan sekecil mungkin dengan menggunakan
logam-logam tertentu yang memiliki nilai . yang rendah.

Resistansi ada yang dibuat dengan sengaja untuk mengatur
besarnya arus listrik yang mengalir pada rangkaian tertentu, dan
komponen yang memiliki nilai resistansi khusus tersebut, disebut
Resistor. Resistor dibagi menjadi dua jenis :

a.
Resistor tetap (fixed resistor)
b.
Resistor variabel (variable resistor)
Variable resistor terdiri dari beberapa macam :
1)
Rotary-type Resistor

2)
LDR (Light Dependent Resistor)

3)
Thermistor, terdiri dari :

a) NTC ( Negative Temperture Coeficient ) Thermistor
b) PTC ( positive Temperature Coeficient ) Thermistor

Pada NTC thermistor, nilai resistansi dari thermistor akan
menurun pada saat suhu meningkat, sedangkan pada PTC Thermistor,
nilai resistansinya akan meningkat seiring dengan meningkatnya suhu.
Thermistor digunakan untuk keperluan pendeteksian suhu suatu objek,
misalnya suhu oli engine, transmisi, axle dan lain-lain.

Simbol
Simbol
Gambar 3.4 Resistor dan simbolnya

Contoh Aplikasi Resistor pada Sepeda Motor

Hampir semua rangkaian kelistrikan pada sepeda motor terdapat
tahanan (resistor). Bentuk tahanan pada rangkaian bisa berupa tahanan
pada bola lampu atau kumparan maupun tahanan (resistor) biasa seperti
gambar 3.4 di atas. Contoh aplikasi/penggunaan resistor tetap (fixed
resistor) pada sepeda motor diantaranya bisa dilihat pada sistem tanda
belok (turn signal) yang menggunakan flasher tipe kapasitor seperti
gambar di bawah ini:

Gambar 3.5 Aplikasi resistor tetap (R) pada sepeda motor

Resistor (R) pada gambar di atas akan dialiri arus dai baterai jika
posisi plat kontak (P) dalam keadaan membuka. Dengan adanya resistor

(R) tersebut, maka aliran arus yang melewatinya akan menjadi lebih kecil
dibanding dengan arus yang mengalir melalui plat kontak (P) saat posisi
menutup. Hal ini akan berakibat lampu tanda belok (lampu sein) tidak
menyala saat arus melewati resistor tersebut walau saklar lampu sein
sedang diarahkan ke kiri maupun ke kanan.
Selanjutnya untuk contoh aplikasi/penggunaan variable resistor
pada sepeda motor diantaranya bisa dilihat pada rangkaian pengukur
bahan bakar seperti gambar di bawah ini:

Gambar 3.6 Aplikasi variable resistor pada sepeda motor

Bekerjanya variable resistor pada gambar di atas berdasarkan
tinggi rendahnya bahan bakar dalam tangki melalui perantaraan
pelampung, lengan pelampung dan lengan penghubung (moving contact
arm). Pergeseran ke kiri dan ke kanan dari lengan penghubung tersebut
akan merubah besarnya tahanan pada variable resistor.

3. Hukum Ohm (Ohm’s Law)
Hukum Ohm menerangkan hubungan antara tegangan (Voltage),
kuat arus (Ampere) dan resistansi (R). Hubungan antara tegangan (V),
kuat arus (I) dan resistansi (R) dapat dirumuskan sebagai berikut:

VV

V = I. R atau R = atau I = , dimana;

IR

V = Tegangan listrik yang diberikan pada sirkuit/rangkaian dalam

Volt (V)
I = Arus listrik yang mengalir pada sirkuit dalam Ampere (A)
R = Tahanan pada sirkuit, dalam Ohm (..)

Untuk menjelaskan hubungan ketiganya tersebut dapat
diilustrasikan seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 3.7 Rangkaian untuk menjelaskan
prinsip dari Hukum Ohm

Pada saat variable resistor diposisikan pada nilai resistansi
rendah, arus akan mengalir maksimal. Namun tegangan akan menurun
(mengecil). Pada saat nilai resistansi maksimal, kuat arus yang mengalir
sangat kecil namun tegangan meningkat mencapai maksimal.

Dari percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa besarnya
tegangan berbanding terbalik dengan kuat arus yang mengalir. Atau
dengan kata lain, makin besar arus yang mengalir, makin minimum
tegangan kerja pada lintasan rangkaian dan makin kecil (makin menjauhi
tegangan baterai/sumber listrik). Makin kecil arus yang mengalir, makin
maksimal tegangan kerja (makin mendekati tegangan baterai/sumber
listrik).

Contoh Aplikasi Hukum Ohm pada Sepeda Motor

Hukum Ohm dapat digunakan untuk menentukan suatu tegangan
V, arus I atau tahanan R pada sirkuit/rangkaian kelistrikan, seperti pada
rangkaian lampu penerangan, sistem pengisian, sistem pengapian dan
sebagainya. Tegangan, arus dan tahanan tersebut dapat ditentukan
tanpa pengukuran yang aktual, bila diketahui harga dari dua faktor yang
lain.

a.
Hukum ini dapat digunakan untuk menentukan besar arus yang
mengalir pada sirkuit/rangkaian bila tegangan V diberikan pada
tahanan R. Rumus Hukum Ohm yang digunakan adalah:
V

I =

R

Arus listrik = tegangan / tahanan

b.
Hukum ini juga dapat digunakan untuk menghitung tegangan V
yang diperlukan agar arus I mengalir melalui tahanan R. Rumus
Hukum Ohm yang digunakan adalah:
V = I x R

Tegangan = Arus listrik x tahanan

4. Rangkaian Kelistrikan
Sistem kelistrikan pada sepeda motor terbuat dari rangkaian
kelistrikan yang berbeda-beda, namun rangkaian tersebut semuanya
berawal dan berakhir pada tempat yang sama, yaitu sumber listrik
(misalnya baterai). Lalu, apa sebenarnya rangkaian (circuit) tersebut?

Supaya sistem kelistrikan dapat bekerja, listrik harus dapat
mengalir dalam suatu rangkaian yang komplit/lengkap dari asal sumber
listrik melewati komponen-komponen dan kembali lagi ke sumber listrik.
Aliran listrik tersebut minimal memiliki satu lintasan tertutup, yaitu suatu
lintasan yang dimulai dari titik awal dan akan kembali lagi ke titik tersebut
tanpa terputus dan tidak memandang seberapa jauh atau dekat lintasan
yang tempuh.

Jika tidak ada rangkaian, listrik tidak akan mengalir. Artinya,
setelah listrik mengalir dari terminal positif baterai kemudian melewati
komponen sistem kelistrikan, maka supaya rangkaian bisa dinyatakan
lengkap, listrik tersebut harus kembali lagi ke baterai dari arah terminal
negatifnya, yang biasa disebut massa (ground). Untuk menghemat kabel,
sambungan (connector) dan tempat, massa bisa langsung dihubungkan
ke body atau rangka besi sepeda motor atau ke mesin.

Tahanan, Arus dan Tegangan pada Rangkaian

Pada satu rangkaian kelistrikan yang terdapat pada sepeda motor
biasanya digabungkan lebih dari satu tahanan listrik atau beban.
Beberapa tahanan listrik mungkin dirangkaikan di dalam satu
rangkaian/sirkuit dengan salah satu diantar tiga metode penyambungan
berikut ini:

a. Rangkaian Seri
b. Rangkaian Paralel
c. Rangkaian Kombinasi (Seri – Paralel)
Nilai/jumlah tahanan dari seluruh tahanan yang dirangkaikan
didalam sikuit/rangkaian disebut dengan tahanan total (combined
resistance). Cara perhitungan tahanan, arus dan tegangan dari ketiga
jenis rangkaian di atas adalah berbeda-beda antara satu dengan yang
lainnya.

Rangkaian Seri

Tipe penyambungan rangkaian seri yaitu bila dua atau lebih
tahanan (R1, R2, dan R3 dan seterusnya) dirangkaikan di dalam satu
sirkuit/rangkaian seperti gambar 3. 8 di bawah ini, sehingga hanya ada
satu jalur untuk mengalirnya arus.

Gambar 3.8 Rangkaian seri

Pada rangkaian seri, jumlah arus yang mengalir selalu sama pada
setiap titik/tempat komponen. Sedangkan tahanan total adalah sama
dengan jumlah dari masing-masing tahanan R1, R2 dan R3.

Dengan adanya tahanan listrik di dalam sirkuit, maka bila ada
arus listrik yang mengalir akan menyebabkan tegangab turun setelah
melewati tahanan. Besarnya perubahan tegangan dengan adanya
tahanan disebut dengan penurunan tegangan (voltage drop). Pada
rangkaian seri, penjumlahan penurunan tegangan setelah melewati
tahanan akan sama dengan tegangan sumber (Vt). Adapun rumus arus
listrik, tahanan dan tegangan pada rangkaian seri adalah sebagai berikut:

Itotal = I1 = I2 = I3

Rtotal = R1 + R2 + R3

Vtotal = V1 + V2 + V3

Kuat arus I yang mengalir pada rangkaian seri besarnya sama
pada R1, R2 dan R3, sehingga dapat dihitung menjadi :

VV

I = = I =

Rtotal R1.
R2 .
R3

Bila arus I mengalir pada sirkuit/rangkaian, penurunan tegangan
V1, V2 dan V3 setelah melewati R1, R2 dan R3 dihitung dengan Hukum
Ohm.

V1 = R1 x I

V2 = R2 x I

V3 = R3 x I

Berdasarkan contoh gambar 3.8 di atas besarnya masing-masing
tahanan, kuat arus dan tegangan dapat dihitung sebagai berikut:

Tahanan total Rtotal = R1 + R2 + R3
= 2 .. + 4 .. + 6 .
= 12 .
Arus listrik I I =
Rtotal
V
I =
321 RRR
V
..
I =
..
..
.
642
12V

= 1 A

Penurunan tegangan pada R1 V1 = R1 x I

= 2 .. x 1 A

= 2 V
Penurunan tegangan pada R2 V2 = R2 x I

= 4 .. x 1 A

= 4 V
Penurunan Tegangan pada R3 V3 = R3 x I

= 6 .. x 1 A

= 6 V

Rangkaian Paralel

Tipe penyambungan rangkaian paralel yaitu bila dua atau lebih
tahanan (R1, R2, dan R3 dan seterusnya) dirangkaikan di dalam satu
sirkuit/rangkaian seperti gambar 3. 9 di bawah ini. Salah satu dari setiap
ujung tahanan (resistor) dihubungkan ke bagian yang bertegangan tinggi
(positif) dari sirkuit dan ujung lainnya dihubungkan ke bagian yang lebih
rendah (negatif).

Gambar 3.9 Rangkaian paralel

Pada rangkaian paralel, tegangan sumber (baterai) V adalah
sama pada seluruh tahanan. Sedangkan jumlah arus I adalah sama
dengan jumlah arus I1, I2 dan I3 yaitu arus yang mengalir melalui
masing-masing resistor R1, R2 dan R3. Adapun rumus arus listrik,
tahanan dan tegangan pada rangkaian seri adalah sebagai berikut:

Vtotal = V1 = V2 = V3

Itotal = I1 + I2 + I3

1

R1xR2 xR3

Rtotal =

111

Rtotal =

..
R1.
R2 .
R3

R1R2 R3

sehingga ;

Kuat arus I yang mengalir pada R1, R2 dan R3, dapat dihitung
menjadi :

VV
V

I1 = I2 =
I3 =

R1 R2
R3

Berdasarkan contoh gambar 3.9 di atas besarnya masing-masing
tahanan, kuat arus dan tegangan dapat dihitung sebagai berikut:

R1xR2xR3

Tahanan total Rtotal =

R
1.R1.
R3
2.x4.x6.
48.

=
= = 4 .

2..
4..
6.
12.

V

Arus I1 (lewat R1) I1 =

R1
12V

I1 = = 6 A

2.

V

Arus I2 (lewat R2) I2 =

R2
12V

I2 = = 3 A

4.

V

Arus I3 (lewat R3) I3 =

R3
12V

I3 = = 2 A

6.

Tegangan pada pada contoh gambar 3. 9 untuk masing-masing
resistor pada rangkaian paralel sama dengan tegangan baterai, yaitu
sebesar 12 V.

Rangkaian Kombinasi (Seri – Paralel)

Tipe penyambungan rangkaian kombinasi (seri – paralel) yaitu
sebuah tahanan (R1) dan dua atau lebih tahanan (R2 dan R3 dan
seterusnya) dirangkaikan di dalam satu sirkuit/rangkaian seperti gambar

3. 10 di bawah ini. Rangkaian seri – paralel merupakan kombinasi
(gabungan) dari rangkaian seri dan paralel dalam satu sirkuit.
Gambar 3.10 Rangkaian kombinasi (seri – paralel)

Tahanan total dalam rangkaian seri – paralel dihitung dengan
langkah sebagai berikut :

a.
Menghitung tahanan pengganti (RPengganti), yaitu gabungan
tahanan R2 dan R3 yang dihubungkan secara paralel.
R2 x R3RPengganti =

R2 .
R3

b.
Menghitung tahanan total, yaitu gabungan tahanan R1 dan
RPengganti yang dihubungkan secara seri.
R2 xR3

Rtotal = R1 + RPengganti = Rtotal = R1 +
R2 .
R3

Besar arus yang mengalir melalui rangkaian dihitung :

VV

Itotal = I1 = I2 + I3 atau I = .

R2 xR3

Rtotal

R1+

R2 .
R3

Tegangan yang bekerja pada R1 (V1) dan pada R2 dan R3
(Vpengganti) dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

V1 = R1 x I

R2 xR3
Vpengganti = RPengganti x I = x I

R2 .R3
Vtotal = V1 + Vpengganti

Selanjutnya berdasarkan contoh gambar 3.10 di atas besarnya
masing-masing tahanan, kuat arus dan tegangan dapat dihitung sebagai
berikut:

R2 x R3

Tahanan pengganti RPengganti =
R2 .
R3

4.x6.

=

4..
6.
24.

= = 2,4 .

10.

Tahanan total Rtotal
= R1 + RPengganti
= 2 .. + 2,4 .. = 4,4 .

V

Arus total I
=

Rtotal

12 V

= = 2,727 A

4,4.

Tegangan Vpengganti yang bekerja pada tahanan R1 dan R2 sebesar:
Vpenganti = Rpengganti x I

= 2,4 .. x 2,73 A
= 6, 55 V

Tegangan pada R1 V1
= R1 x I
= 2 .. x 2,727 A
= 5,45 V

Tegangan total Vtotal
= V1 + Vpengganti
= 5,45 + 6,55 = 12 V

Arus I2 yang mengalir lewat R2 I2 = R2
Vpengganti
= 4.
6,55V
= 1,6375 A
Arus I3 yang mengalir lewat R3 I3 = R3
Vpengganti
= 6.
6,55V
= 1,0917 A

Contoh Aplikasi Jenis Rangkaian pada Sepeda Motor

Seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, bahwa hampir
semua rangkaian kelistrikan pada sepeda motor terdapat tahanan
(resistor). Bentuk tahanan pada rangkaian bisa berupa tahanan pada
bola lampu atau kumparan maupun tahanan (resistor) biasa. Contoh
aplikasi/penggunaan jenis rangkaian, baik rangkaian seri, paralel maupun
gabungan seri – paralel pada sepeda motor bisa ditemukan dalam sistem
penerangan (lampu-lampu dan tanda belok/sein), sistem pengisian yang
menggunakan pengaturan tegangan (voltage regulator) secara elektronik,
dan sistem pengapian elektronik. Diantara contoh-contoh tersebut yaitu
sistem tanda belok (turn signal) yang menggunakan flasher tipe kapasitor
seperti gambar di bawah ini:

Gambar 3.11 Aplikasi jenis-jenis rangkaian
pada sepeda motor

Berdasarkan gambar 3.10 di atas dapat dilihat bahwa rangkaian
kelistrikan sistem tanda belok tersebut memiliki jenis rangkaian, yaitu:

a.
Rangkaian kombinasi seri – paralel antara tahanan (R) dengan
kumparan L1 dan L2
b.
Rangkaian paralel antara lampu sein kiri depan dengan lampu
sein kiri belakang
Sedangkan untuk menjelaskan salah satu aplikasi rangkaian seri
pada sepeda motor, lihat gambar 3.16 pada pembahasan zener diode.
Dalam gambar tersebut terdapat rangkaian seri antara R3 dan R4.

5. Diode
Gambar 3.12 Dioda dan simbolnya

Sebuah diode didefinisikan sebagai paduan dua elektroda, satu
menjadi positif (anoda) dan yang lain adalah negatif (katoda) dan hanya
mengijinkan arus mengalir dalam satu arah.

Dioda merupakan komponen semikonduktor yang berfungsi
untuk mengijinkan arus mengalir di dalam sebuah rangkaian hanya
dalarn satu arah (forward bias), yaitu dari anoda ke katoda dan
memblokirnya saat mengalir dalam arah yang berlawanan (reverse bias),
hal ini dimungkinkan oleh karena karakteristik dari silicon, atau wafer di
dalam diode.

Saat sebuah penghantar/konduktor tegangan positif di hubungkan
ke anoda dan penghantar tegangan negatif dihubungkan ke katoda, arus
mengalir melalui diode. Jika penyambungan ini dibalik, arus tidak akan
dapat mengalir sebab pemblokiran dari karakteristik silicon wafer, oleh
karena itu diode beraksi sebagai katup satu arah (check valve) dan
mengijinkan arus mengalir hanya satu arah.

Gambar 3.13 Contoh aplikasi penggunaan dioda

Contoh Aplikasi Diode pada Sepeda Motor

Aplikasi/penggunaan dioda pada sistem kelistrikan sepeda motor
bisa ditemukan dalam rangkaian sistem penerangan maupun sistem
pengisian yang menggunakan generator AC (alternator), seperti terlihat
pada gambar di bawah ini:

Gambar 3.14 Contoh aplikasi penggunaan diode
pada sepeda motor

Berdasarkan gambar 3.14 di atas, diode (rectifier) bekerja untuk
merubah arus AC (bolak-balik) yang dihasilkan alternator menjadi arus
Dc (searah). Arus DC ini kemudian disalurkan ke baterai dan beban
(load) seperti lampu tanda belok/sein.

6. Zener diode
Zener diode merupakan suatu jenis diode yang memiliki sifat
dioda hanya bila tegangan kerjanya (beda potensial diantara kedua
kakinya) belum melampaui tegangan tembusnya (breakdown voltage ).

Gambar 3.15 Zener diode dan simbolnya

Bila tegangan kerjanya melampaui tegangan tembusnya, dioda ini
akan kehilangan sifat ke-dioda-annya. Zener diode banyak digunakan
pada rangkaian regulator tegangan pada alternator.

Contoh Aplikasi Zener Diode pada Sepeda Motor

Aplikasi/penggunaan zener dioda pada sistem kelistrikan sepeda
motor bisa ditemukan dalam rangkaian sistem pengisian yang
menggunakan generator AC (alternator) dengan pengatur tegangan
(voltage regulator) secara elektronik, seperti terlihat pada gambar di
bawah ini :

Gambar 3.16 Contoh aplikasi penggunaan
zener diode pada sepeda motor

Berdasarkan gambar 3.16 di atas, zener diode bekerja untuk
mengaktifkan basis transistor T2 ketika tegangan yang berada diantara
R4 dan R5 telah mencapai tegangan tembus zener diode tersebut.
Dengan bekerjanya zener diode tersebut, menyebabkan arus yang
mengalir pada R1 akan cenderung mengalir ke massa lewat T2 dan
suplai arus listrik ke basis T1 terhenti. Dengan demikian rotor saat ini
tidak mendapat suplai arus listrik karena T1 tidak hidup (OFF). Rotor
alternator akan kehilangan kemagnetan, dan proses pengisian baterai
akan terhenti.

7. Transistor
Transistor merupakan kependekan dari Transfer Resistor, atau
suatu komponen elektronika yang dapat mengalirkan atau memutuskan
aliran arus yang besar dengan pengendalian arus listrik yang relatif
sangat kecil, dengan mengubah resistansi lintasannya. Kemampuannya
tersebut hampir sama dengan relay, namun transistor memiliki kelebihan
antara lain yaitu :

a.
Arus pengendali pada transistor jauh lebih kecil sehingga lebih
mudah mengendalikannya.
b.
Transistor tidak menggunakan kontak mekanis, sehingga tidak
menimbulkan percikan api dan lebih tahan lama.
c.
Ukuran transistor relatif lebih kecil dan kompak dibanding relay.
d.
Dapat bekerja pada tegangan kerja yang bervariasi.
Namun demikian, disamping mempunyai kelebihan, transistor
juga mempunyai beberapa kelemahan antara lain:

a.
Kesalahan penghubungan kaki transistor akan berakibat
kerusakan permanen.
b.
Panas yang dihasilkan pada transistor lebih besar sehingga bila
tidak diberi pendinginan yang cukup, akan memperpendek usia
transistor.
Terdapat dua jenis transistor, yaitu :

a.
Tipe NPN
b. Tipe PNP

Gambar 3.17 Transistor dan simbolnya (E = emitor,
B = basis/gate, C = kolektor)

Untuk menentukan apakah suatu transistor adalah NPN atau PNP
tidak dapat secara fisik. Kita dapat melihat dari kode dan
mencocokkannya dengan Transistor handbook. Pada transistor terdapat
dua aliran arus lsitrik, yaitu arus dari kaki Basis ke Emitor ( atau
sebaliknya ) yaitu IB-E dan arus yang mengalir dari Kolektor ke Emitor (
atau sebaliknya ) yaitu IC-E.

Aplikasi/penerapan transistor dalam sistem kelistrikan banyak
digunakan sebagai saklar elektronik. Adapun cara kerja transistor secara
ringkas adalah: jika ada arus pemicu (arus kecil) yang mengalir dari Basis
ke Emitor maka arus yang besar akan mengalir dari Kolektor ke Emitor
(untuk jenis NPN) atau jika ada arus pemicu (arus kecil) dari Emitor ke
Basis, maka arus yang besar akan mengalir dari Emitor ke Kolektor
(untuk jenis PNP).

Contoh Aplikasi Transistor pada Sepeda Motor

Aplikasi/penggunaan transistor pada sistem kelistrikan sepeda
motor bisa ditemukan dalam rangkaian sistem pengapian semi transistor
maupun full transistor, sistem tanda belok yang menggunakan flasher
tipe transistor, sistem pengisian yang menggunakan pengaturan
tegangan secara elektronik, dan sebagainya. Gambar 3.18 di bawah ini
memperlihatkan aplikasi transistor pada sistem pengapian full transistor
sepeda motor: jika terminal basis TR2 mendapat sinyal dari pick up coil,
maka arus yang mengalir lewat R akan cenderung ke massa lewat
terminal C ke terminal E TR2. Akibatnya basis TR1 tidak ada arus
sehingga TR1 akan OFF, sehingga arus pada kumparan primer ignition
coil (koil pengapian) akan terputus dan akan terjadi induksi pada kedua
kumparan koil pengapian tersebut. Terjadinya induksi tersebut
menghasilkan percikan bunga api pada busi.

Gambar 3.18 Contoh aplikasi penggunaan
transistorpada sepeda motor

M. KAPASITOR/KONDENSOR
Kapasitor merupakan komponen listrik yang dapat menyimpan
energi listrik dalam jangka waktu tertentu. Dikatakan dalam jangka waktu
tertentu karena walaupun kapasitor diisi sejumlah muatan listrik, muatan
tersebut akan habis setelah beberapa saat, bergantung besarnya
kapasitas kapasitor. Besarnya kapasitas kapasitor diukur dalam satuan
Farad. Dalam prakteknya ukuran ini terlampau besar, sehingga
digunakan satuan yang lebih kecil seperti microfarad (.F), nanofarad atau
pikofarad.

Kapasitor memiliki dua jenis yaitu:

a. Kapasitor polar
Pada kapasitor polar, adanya penentuan kutub-kutub kapasitor
bila hendak dihubungkan dengan suatu rangkaian, dan hanya
bekerja pada tegangan DC. Kapasitor polar memiliki kapasitas
yang relatif besar
b.
Kapasitor non polar
Pada kapasitor non-polar tidak memiliki kutub-kutub sehingga
dapat dipasang pada posisi terbalik pada rangkaian, serta dapat
dihubungkan dengan tegangan AC. Ukuran kapasitor non polar
kebanyak relatif kecil, dengan satuan nanofarad dan pikofarad.

Gambar 3.19 Kapasitor

Gambar 3.20 Simbol kapasitor

Kapasitor memiliki tegangan kerja maksimum yang tertera pada
label di housingnya. Tegangan rangkaian listrik yang dihubungkan pada
kapasitor tidak boleh melampaui tegangan kerja maksimum kapasitor
yang bersangkutan, karena akan menyebabkan kerusakan permanen
(bahkan pada beberapa kasus, terjadi ledakan). Tegangan kerja
maksimum ini berkisar : 10V, 25V, 35V, 50V, 100V untuk kapasitor polar
dan 250V sampai 750V untuk kapasitor non-polar.

Terdapat dua ketentuan praktis tentang kapasitor, yaitu: 1)
Kapasitor yang kosong muatan bertindak seolah-olah konduktor
(penghantar), dan 2) Kapasitor yang penuh muatan bertndak seolah-olah
isolator (penyekat).

Contoh Aplikasi Kapasitor pada Sepeda Motor

Aplikasi/penggunaan kapasitor pada sistem kelistrikan sepeda
motor bisa ditemukan dalam rangkaian sistem pengapian konvensional
(menggunakan platina) , dan pengapian CDI (Capacitor Discharge
Ignition) baik CDI dengan arus DC (searah) maupun CDI dengan arus AC
(bolak balik). Gambar 3.21 di bawah ini memperlihatkan aplikasi kapasitor
pada sistem pengapian CDI arus AC :

Gambar 3.21 Contoh aplikasi penggunaan kapasitor
pada sepeda motor

Berdasarkan gambar di atas, kapasitor dalam CDI unit bekerja
menyimpan arus sementara (100 sampai 400 V) dari magnet yang telah
di searahkan lebih dulu oleh diode ketika SCR (Silicone Control Rectifier)
belum aktif. Setelah gerbang G pada SCR diberi arus sinyal untuk proses
pengapian, maka SCR akan aktif dan menyalurkan arus listrik dari anoda

(A) ke katoda (K). Dengan berfungsinya SCR tersebut, menyebabkan
kapasitor melepaskan arus (discharge) dengan cepat. Kemudian arus
mengalir ke kumparan primer (primary coil) koil pengapian untuk
menghasilkan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt sebagai tegangan
induksi sendiri.
Akibat induksi diri dari kumparan primer tersebut, kemudian terjadi
induksi dalam kumparan sekunder dengan tegangan sebesar 15 KV
sampai 20 KV. Tegangan tinggi tersebut selanjutnya mengalir ke busi
dalam bentuk loncatan bunga api yang akan digunakan untuk membakar
campuran bahan bakar dan udara dalam ruang bakar.

Simbol-simbol Komponen Kelistrikan

Jika rangkaian kelistrikan digambarkan dengan gambar asli benda
yang bersangkutan, maka ilustrasi dan pemahamannya bisa menjadi
cukup sulit dan rumit. Untuk itu, pada pembuatan diagram rangkaian
kelistrikan biasanya dilakukan hanya dengan membuat simbol-simbol
yang menunjukkan komponen kelistrikan dan kabel-kabel.

Beberapa simbol-simbol telah disebutkan pada pembahasan di
atas. Adapun simbol-simbol yang sering digunakan pada pembuatan
rangkaian sistem kelistrikan secara garis besar adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Simbol-simbol komponen kelistrikan

SPARK PLUG
(BUSI)
GENERATOR
WIRE NOT CONNECTED
(KABEL TIDAK
TERHUBUNG
WIRE SPLICED
(KABEL
TERHUBUNG)
WIRE (KABEL)

N. SISTEM STARTER
Sistem starter listrik saat ini dapat ditemukan hampir disemua
jenis sepeda motor. Sistem starter pada sepeda motor berfungsi sebagai
pengganti kick starter, agar pengendara tidak perlu lagi mengengkol
kakinya untuk menghidupkan mesin. Namun demikian, pada umumnya
sepeda motor dilengkapi juga dengan kick starter.

Penggunaan kick starter biasanya dilakukan jika kondisi sistem
starter listrik sedang mengalami kerusakan atau masalah. Sebagai
contoh jika kondisi baterai lemah atau terdapat kerusakan pada motor
starter sehingga sistem starter listrik tidak dapat digunakan untuk
menghidupkan mesin, maka pengendara bisa langsung memanfaatkan
kick starter.

Secara umum sistem starter listrik terdiri dari; baterai, sekring
(fuse), kunci kontak (ignition switch), saklar starter (starter switch), saklar
magnet starter (relay starter/solenoid switch), dan motor starter. Contoh
ilustrasi posisi komponen sistem starter adalah seperti terlihat pada
gambar 3.22 di bawah ini:

Gambar 3.22 Posisi komponen sistem starter
pada salah satu contoh sepeda motor

1. Prinsip Kerja Motor Starter
Bekerjanya suatu motor starter mempunyai banyak persamaan
dengan generator DC, tetapi dalam arah yang sebaliknya. Motor starter
mengubah energi listrik menjadi energi mekanik (tenaga putar),
sedangkan generator DC mengubah energi mekanik menjadi energi
listrik. Dalam kenyataannya, motor DC akan menghasilkan tenaga listrik
jika diputar secara mekanik, dan generator DC dapat berputar (berfungsi)
seperti motor.

Motor bisa berputar jika diberi aliran arus berdasarkan prinsip
berikut ini:

Pada saat arus mengalir melewati konduktor (penghantar) A dan
B yang berada diantara kutub magnet, maka penghantar A dan B akan
menerima gaya dorong berdasarkan garis gaya magnet yang timbul
dengan arah seperti pada gambar 3.23 di bawah ini. Hubungan antara
arah arus, arah garis gaya magnet, dan arah gaya dorong pada
penghantar merujuk pada aturan/kaidah tangan kiri Fleming.

Gambar 3.23 Prinsip kaidah tangan kiri Fleming

Arah arus yang masuk kebalikan dengan arah yang keluar
sehingga gaya dorong yang dihasilkan juga saling berlawanan. Oleh
karena itu penghantar akan berputar saat arus tersebut mengalir. Untuk
membuat penghantar tetap berputar maka digunakan komutator dan sikat
(brush).

Komponen utama motor starter terdiri atas; armature coil
(kumparan jangkar), komutator, field coils (kumparan medan), dan sikatsikat
(brushes). Berdasarkan kaidah tangan kiri Fleming di atas, prinsip
kerja dari komponen-komponen utama motor starter adalah sebagai
berikut (lihat gambar 3.24 di bawah):

Armature dan field coil dihubungkan dengan baterai secara seri
melalui sikat-sikat dan komutator. Urutan aliran arusnya yaitu dari
baterai, relay starter, field coil, sikat positif, komutator, armature, sikat
negatif dan selanjutnya ke massa.

Gambar 3.24 Prinsip dasar Motor starter

Pada saat arus listrik mengalir, pole core bersama-sama field coil
akan terbangkit medan magnet. Armature yang juga dialiri arus listrik
akan timbul garis gaya magnet sesuai tanda putaran panah pada gambar

3.24. Sesuai dengan kaidah tanan kiri Fleming, armature coil sebelah kiri
akan terdorong ke atas dan yang sebelah kanannya akan terdorong ke
bawah. Dalam hal ini armature coil berfungsi sebagai kopel atau gaya
puntir, sehingga armature akan berputar. Jumlah kumparan di dalam
armature coil banyak, sehingga gaya putar yang ditimbulkan armature
coil bekerja saling menyusul. Akibatnya putaran armature akan menjadi
teratur.

2.
Persyaratan yang harus Dipenuhi Sistem Starter
Pada umumnya sepeda motor yang dilengkapi dengan sistem
starter listrik, sumber arus yang digunakan adalah baterai. Dalam hal ini
kondisi baterai harus dapat menghasilkan tenaga putar (torque) yang
sangat besar. Selain itu ukuran baterai juga diharapkan kecil dan ringan.
Motor starter dalam sistem starter listrik harus dapat membangkitkan
torque yang besar dari sumber tenaga baterai yang terbatas. Maka untuk
itu sistem starter dilengkapi dengan motor starter arus searah (DC).
Dalam menentukan motor starter yang tepat menurut kebutuhan suatu
mesin, terdapat beberapa faktor yang perlu diperhatikan, antara lain:

a. Sifat starter
Tenaga putar (torque) yang dihasilkan motor starter akan
menambah kadar arus yang mengalir pada starter secara
proporsional (sepadan). Makin rendah putaran, makin besar arus
yang mengalir pada starter sehingga menghasilkan tenaga putar
yang besar. Begitu pula dengan tegangan yang disuplai pada
starter, jika tegangannya bertambah besar, maka kapasitasnya
akan menurun. Oleh karena itu kapasitas starter sangat erat
hubungannya dengan baterai.

b.
Kecepatan putar dari mesin
Mesin tidak akan start (hidup) sebelum melakukan siklus kerjanya
berulang-ulang, yaitu langkah hisap, kompresi, pembakaran
(usaha) dan buang. Langkah pertama untuk menghidupkan
mesin, lalu memutarkannya dan menyebabkan siklus pembakaran
awal (pendahuluan). Motor starter minimal harus dapat
memutarkan mesin pada kecepatan minimum yang diperlukan
untuk memperoleh pembakaran awal.
Kecepatan putar minimum yang diperlukan untuk menghidupkan
mesin berbeda tergantung pada konstruksi (banyaknya silinder,
volume silinder, bentuk ruang bakar) dan kondisi kerjanya (suhu
dan tekanan udara, campuran udara dan bensin dan lonctan
bunga api busi), tetapi pada umumnya untuk motor bensin
berkisar antara 40 sampai 60 rpm.

c.
Torque yang dihasilkan starter untuk menggerakkan mesin
Torque yang dihasilkan starter merupakan faktor penting dalam
menentukan apakah starter dapat berfungsi dengan baik atau
tidak. Setiap mesin mempunyai torque maksimum yang
dihasilkan, misal suatu mesin dengan 100 cc maksimum
torquenya adalah 0,77 kg-m.
Untuk dapat menggerakkan mesin dengan kapasitas tersebut,
diperlukan torque yang melebihi kapasitas tersebut (sampai 6
kali). Tetapi pada umumnya starter hanya mempunyai torque
yang yang tidak jauh berbeda dari torque maksimum mesin

tersebut, sehingga tidak akan mampu memutarkan poros engkol.
Untuk mengatasi hal ini, pada motor starter dilengkapi dengan gigi
pinion (pinion gear), sehingga momen yang dihasilkan bisa
diperbesar.

3. Komponen Motor Starter
Komponen yang berfungsi sebagai jantung dari motor adalah
armature (jangkar) dan kumparan-kumparan yang mengelilingi poros
armature dinamakan armature coil (kumparan jangkar). Pada bagian
ujung armature yang berbentuk silinder dan terdiri dari sejumlah
segmen/bagian tembaga yang dipisahkan oleh isolator mika dinamakan
commutator (komutator). Komutator berfungsi agar arus listrik bisa
mengalir secara terus menerus ke armature coil melalui carbon brushes
(sikat) yang langsung bergesekan dengannya. Adapun pembahasan lebih
terperinci dari komponen-komponen motor starter adalah sebagai berikut
(lihat gambar 3.27 di bawah ini):

a. Field coil (kumparan medan)
Field coil dibuat dari lempengan tembaga dan berfungsi untuk
membangkitkan medan magnet (nomor 2a gambar 3.27). Field
coil disambungkan secara seri dengan armature coil (kumparan
jangkar), agar arus yang melewati field coil juga mengalir ke
armature coil.
Field coil hanya terdapat pada sepeda motor yang menggunakan
motor starter tipe elektromagnet (magnet remanen/bukan
permanen). Pada sepeda motor yang menggunakan motor starter
tipe magnet permanen tidak menggunakan field coil. Motor starter
tipe magnet permanen bentuknya kompak dan bobotnya lebih
ringan, sehingga banyak digunakan pada sepeda motor kecil saat
ini (lihat gambar 3.25)

Gambar 3.25 Motor starter tipe magnet permanen

b. Armature
Armature terdiri atas sebatang besi yang berbentuk silindris dan
diberi slot-slot, armature shaft (poros armature), komutator serta
armature coil (kumparan armature). Armature berfungsi untuk
merubah energi listrik menjadi energi mekanik, dalam bentuk
gerak putar. (gambar 3.26 dan gambar 3.27 nomor 3 dan 3a).

Gambar 3.26 Armature

Jumlah lilitan armature coil dibuat banyak agar semakin banyak
helai-helai kawat yang mendapat gaya elektromagnetik (garis
gaya magnet), sehingga tenaga yang dihasilkan cukup besar
untuk memutarkan cankshaft (poros engkol)

c. Yoke dan pole core
Yoke (stator) berfungsi sebagai tempat untuk mengikatkan pole
core (nomor 2 dan 2b gambar 3.27). Yoke terbuat dari logam yang

berbentuk silinder. Sedangkan pole core berfungsi untuk
menopang field coil dan memperkuat medan magnet yang
ditimbulkan field coil.
d. Brush (sikat)

Brush (sikat) dibuat dari tembaga lunak, dan berfungsi untuk
meneruskan arus listrik dari field coil ke armature coil langsung ke
massa melalui komutator (nomor 10 dan 11 gambar 3.27). Untuk
motor starter tipe magnet permanen (tidak menggunakan field

coil), brush akan meneruskan arus listrik dari baterai langsung ke
armature kemudian ke massa melalui komutator. Motor starter
pada sepeda motor ada yang mempunyai dua buah sikat (satu
sikat posisitf dan satu sikat negatif) dan empat buah sikat (dua
sikat positif dan dua sikat negatif) tergantung dari beban mesin
yang akan diputar. Biasanya motor starter dengan empat buah
sikat hanya digunakan pada sepeda motor besar.

Gambar 3.27
Komponen motor
starter tipe dua
brush (sikat)

1.
Motor starter
2.
Stator (rumah field
coil&pole core)
2a. Field coil
2b. Pole core

3. Armature
3a. Commutator
4.
& 12. O-ring
5.
Pinion gear (gigi
pinion)
6.
Circlip
7.
End plate
8. & 13. Washer
8.
Brush holder
(pemegang sikat)
10 & 11Brush (sikat)

14. Bolt (baut)
15 & 17 Nut (mur)
18. Cable
19. Boot (sepatu kabel)
Pada bagian rumah motor (stator) diikatkan field coil (kumparan
medan) dan pole core (inti kutub) yang berfungsi untuk
menghasilkan medan magnet. Biasanya terdapat empat buah
pole core dan field coil yang mempunyai jumlah lilitan cukup
banyak agar medan magnet yang ditimbulkan lebih besar.
Untuk memperbesar momen putar yang dihasilkan motor
disamping dengan adanya perbandingan gigi sproket (pinion)
pada motor starter dengan gigi sproket pada crankshaft, maka
pada salah satu ujung armature terdapat gigi reduksi. Dengan gigi
reduksi perbandingan putaran yang keluar/output menjadi lebih
kecil, sehingga momen putarnya akan lebih besar.

e.
Starter relay/solenoid switch (saklar magnet starter)
Starter relay (solenoid switch) pada sepeda motor ada yang
sederhana dan yang mengadopsi dari starter relay yang
digunakan pada mobil seperti jenis pre-engaged starter (starter
relay langsung dipasangkan di bagian atas motor starter).
Starter relay yang sederhana maksudnya adalah sejenis relay
biasa yang hanya terdiri dari sebuah kumparan dan empat buah
terminal dan ditempatkan terpisah dari motor starter (lihat gambar

3.22 pada pembahasan sebelumnya). Starter relay ini pada
umumnya digunakan pada sepeda motor berukuran kecil.
Gambar 3.28 Relay starter sederhana dan rangkaiannya

Starter relay (solenoid switch) jenis pre-engaged starter umumnya
terdapat pada sepeda motor besar. Solenoid ini bertugas seperti
relay, menghubungkan arus yang besar dari baterai ke starter
motor (melalui moving contact atau plat kontak yang bisa
bergerak karena adanya kemagnetan) dengan bantuan sejumlah
kecil arus listrik yang dikontrol dari kunci kontak.
Terdapat dua kumparan dalam starter jenis pre-engaged, yaitu
pull-in coil dan holding coil. Pull-in coil bertugas menarik plunger
melawan spring (pegas) hingga kontak terhubung, dan holding
coil bertugas memegang (hold) plunger pada posisi tertarik agar
pengontakan tetap berlangsung. Shift lever (tuas penggerak)
bertugas pula untuk menggeserkan (shifting) gigi pinion (pinion
gear) motor starter ke depan hingga terkait dengan flywheel gear
(roda gila).

Gambar 3.29 Gambar potongan pre-engaged starter

119

Overrunning clutch/starter clutch (kopling starter) dan gigi pinion
bertugas menyalurkan torsi (tenaga putar) yang dihasilkan motor
starter ke flywheel (roda gila) dan mencegah terjadinya putaran
yang berlebihan (overrunning) akibat terbawa oleh berputarnya
poros motor starter saat mesin telah hidup dan perkaitan antara
gigi pinion dan flywheel masih terjadi.

4. Cara Kerja Sistem Starter
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa secara umum sistem
starter listrik terdiri dari baterai, sekring (fuse), kunci kontak (ignition
switch), saklar/tombol starter (starter switch), relay starter, dan motor
starter. Arus yang besar (sekitar 40 ampere) akan mengalir ke motor
starter saat dihidupkan. Untuk mengalirkan arus besar tersebut,
diperlukan kabel yang tebal (besar) langsung dari baterai menuju motor
tanpa lewat starter switch agar kontaknya tidak meleleh ketika ditekan.
Oleh karena itu, dalam rangkaian sistem starter dilengkapi relay starter
atau solenoid switch.

a. Cara Kerja Sistem Starter Dengan Starter Relay Sederhana
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa sistem starter
dengan relay starter sederhana banyak digunakan bahwa sepeda
motor berukuran kecil (sepeda motor dengan mesin yang
berkapasitas 200 cc ke bawah). Sepeda motor jenis ini banyak
dijumpai di kalangan masyarakat yang banyak digunakan sebagai
alat transportasi keluarga. Gambar 3.30 di bawah ini adalah
contoh rangkaian sistem starter dengan relay starter sederhana
yang digunakan pada salah satu tipe sepeda motor Honda. Pada
gambar tersebut sistem starternya telah dilengkapi dengan sistem
pengaman. Penjelesan tentang sistem pengaman akan dibahas
lebih detil pada bagian 5 (inovasi sistem starter).

Gambar 3.30 Rangkaian sistem starter dengan
starter relay sederhana

Adapun cara kerjanya adalah sebagai berikut:
Pada saat starter switch (tombol starter) ditekan, arus dari baterai
akan mengalir ke kumparan relay starter melalui ignition switch
(kunci kontak) terus ke massa. Dalam hal ini arus akan sampai ke
massa jika posisi kopling sedang ditekan atau posisi gigi transmisi
posisi netral (saklar kopling atau saklar neutral menghubungkan
arus dari kumparan relay starter ke massa). Bagi sepeda motor
dengan sistem starter yang tidak dilengkapi dengan sistem
pengaman, maka aliran arusnya dari tombol starter ——— ke
kumparan relay starter ———- ke massa.
Arus yang dialirkan ke kumparan relay ini cukup kecil sehingga
tidak akan membuat kontak pada tombol starter kelebihan beban.
Setelah arus sampai ke massa, pada kumparan relay starter
terjadi kemagnetan. Hal ini akan menyebabkan plat kontak pada
relay starter tertarik (menutup), sehingga arus yang besar
langsung dari baterai mengalir menuju motor starter. Selanjutnya
motor starter tersebut akan berputar untuk menghidupkan mesin
sesuai prinsip kerja motor starter yang telah dijelaskan
sebelumnya

b. Cara Kerja Sistem Starter Dengan Starter Relay Jenis Pre-
EngagedSistem starter jenis pre-engaged banyak digunakan untuk sepeda
motor berukuran besar. Salah sepeda motor yang menggunakan
sistem starter jenis ini adalah sepeda motor BMW. Karena
mengadopsi dari mobil maka cara kerjanya juga sama dengan
sistem starter jenis pre-engaged yang digunakan pada mobil.
Rangkaian sistem starter jenis pre-engaged bisa dilihat pada
gambar 3.31 di bawah ini :

Gambar 3.31 Rangkaian sistem starter
jenis pre-engaged starter

Cara kerjanya adalah sebagai berikut:

Pada saat kunci kontak OFF, tidak ada arus yang mengalir ke
dalam solenoid (starter relay) maupun motor starter. Arus dari
baterai akan stand-by (berhenti) pada contact point (titik kontak)
sebelah atas (lihat gambar 3.31). gigi pinion (pinion gear) tidak
terkait dengan flywheel.
Pada saat kunci kontak di-ON-kan, arus listrik akan mengalir ke
pull in coil dan hold in coil secara bersamaan. Selanjutnya pull in
coil akan menarik plunger ke arah kanan dan hold in coil akan
menahan plunger pada posisi terakhirnya. Dalam rangkaian
sistem starter ini, pull ini coil terpasang seri dengan field coil
sehingga arus yang keluar dari pull in coil akan diteruskan ke field

coil terus ke massa. Untuk lebih jelas lagi aliran arusnya adalah
sebagai berikut :
Baterai —— kunci kontak —— terminal 50 —— hold in coil ——
massa
Baterai —— kunci kontak —— terminal 50 —— pull ini coil —–field
coil —-sikat positif —— armature —— sikat negatif —–massa.

Oleh karena arus yang mengalir ke field coil pada saat ini masih
kecil, maka armature akan berputar lambat untuk memungkinkan
terjadinya perkaitan gigi pinion dengan flywheel secara lembut.
Pada saat ini moving contact belum berhubungan dengan contact
point (lihat gambar 3.32).

Gambar 3.32 Rangkaian sistem starter jenis pre-engaged
starter saat kunci kontak dihubungkan

Pada saat yang bersamaan, pergerakan plunger juga akan
menyebabkan shift lever (tuan penggerak/pengungkit) tertarik
sehingga gigi pinion akan bergeser ke arah flywheel. Bila gigi
pinion sudah berkaitan penuh dengan flywheel, moving contact
akan menutup contact point sehingga arus besar dari baterai yang
telah stand by pada contact point sebelah atas akan mengalir
langsung ke field coil melalui terminal C. Akibatnya armature akan

berputar cepat dan putarannya diteruskan ke flywheel melalui
overunning clutch dan gigi pinion (lihat gambar 3.33). untuk lebih
jelas lagi aliran arusnya adalah sebagai berikut:
Baterai —— kunci kontak —— terminal 50 —— hold in coil ——
massa

Baterai —— kunci kontak —— contact point —— field coil —–sikat
positif —— armature —— sikat negatif —— massa.

Gambar 3.33 Rangkaian sistem starter jenis pre-engaged
starter saat pinion berkaiatan penuh

Pada saat moving contact telah berhubungan dengan contact
point, maka arus dari pull in coil tidak dapat mengalir, akibatnya plunger
ditahan oleh kemagnetan hold in coil saja. Jika mesin sudah mulai hidup,
flywheel akan memutarkan armature melalui pinion karena kecepatan
putar motor starter lebih kecil dibanding kecepatan mesin. Untuk
menghindari kerusakan apada starter akibat hal tersebut, maka kopling
starter (overunning clutch) akan membebaskan dan melindungi armature
dari putaran yang berlebihan.

5. Inovasi Sistem Starter
Pada beberapa sepeda motor telah dilengkapi pengaman (safety)
bagi si pengendaranya, yaitu sistem starter tidak akan hidup jika tidak
sesuai kondisi atau syarat yang telah ditetapkan. Misalnya, sistem starter
tidak akan hidup jika rem depan atau rem belakang tidak ditekan. Sistem
ini biasanya ditemukan pada sepeda motor jenis scooter (misalnya
Yamaha Nouvo) yang menggunakan transmisi otomatis. Contoh
pengaman lainnya adalah sistem starter tidak akan hidup jika gigi
transmisi masuk (tidak posisi netral) atau kopling tidak ditarik/ditekan.

Ada juga sepeda motor yang akan memutuskan aliran arus pada
sistem pengapian jika sidestand (standar samping) masih kondisi
digunakan/diturunkan, sementara sepeda motor tersebut akan dijalankan
oleh pengendaranya. Rangkaian sistem starter terhubung dengan posisi
sidestand dan rangkaian posisi gigi dan unit CDI pengapian.

a. Sistem Pengaman pada Scooter
Sistem pengaman pada scooter dirancang untuk mencegah
scooter jalan sendiri bila pengendara memutar gas saat akan
menghidupkan (men-start) mesin. Dengan sistem pengaman ini,
sistem starter hanya bisa dihidupkan jika pengendara menekan
rem depan dan/atau rem belakang. Gambar 3.34 di bawah ini
memperlihatkan rangkaian sistem starter pada scooter yang
dilengkapi dengan pengaman.

Cara kerja Sistem Starter yang Menggunakan Sistem
Pengaman

Jika rem depan maupun rem belakang ditekan, maka saklar rem
depan/belakang (front/rear stop switch) akan menghubungkan
kumparan relay starter dengan saklar utama (main switch).

Gambar. 3.34 Rangkaian sistem starter scooter

Akibat adanya aliran arus pada kumparan relay starter, maka
dalam relay starter akan timbul kemagnetan yang akan menarik
plat kontaknya. Selanjutnya arus yang besar langsung mengalir
dari baterai menuju motor starter dan motor starter berputar.

b.
Sistem Pengaman Sepeda Motor (selain Scooter)
Rangkaian sistem pengaman pada gambar di bawah ini dirancang
untuk mencegah sepeda motor jalan sendiri saat pengendara
secara tidak sengaja/tidak tahu menekan starter switch sementara
posisi kopling tidak ditekan/ditarik atau posisi gigi transimisi
sedang tidak dalam kondisi netral.

Gambar 3.35 Rangkaian sistem starter yang
dilengkapi pengaman

Cara kerja Sistem Starter yang Menggunakan Sistem
Pengaman

Berdasarkan gambar 3.35 di atas, terlihat bahwa kumparan relay
starter tidak akan mendapat arus jika posisi gigi transmisi tidak
netral atau kopling (clutch) tidak sedang ditekan/ditarik. Pada
posisi tersebut, saklar netral (neutral switch) maupun saklar
kopling (clutch switch) tidak akan menghubungkan rangkaian
relay pengaman (safety relay) ke massa. Akibatnya safety relay
tetap dalam kondisi tidak hidup (OFF) sehingga starter relay juga
tidak akan hidup walaupun starter switch ditekan. Dengan
demikian, motor starter tidak akan bisa berputar.

Aliran arus dari baterai menuju motor starter akan terjadi jika
posisi gigi transmisi sedang netral. Skema aliran arusnya seperti
digambarkan oleh tanda panah yang terlihat pada gambar 3.36 di
bawah ini:

Gambar 3.36 Aliran arus listrik menuju motor
starter saat gigi transmisi netral

Untuk lebih jelas lagi aliran arusnya berdasarkan gambar 3.36 di
atas adalah sebagai berikut:
Baterai —— main switch —— safety relay —–neutral switch —-massa.

Baterai —— main switch —— safety relay —– starter relay ——
starter switch —— massa.

Baterai —— plat kontak starter relay —– motor starter —– massa
(sehingga motor starter berputar).

Aliran arus dari baterai menuju motor starter juga akan terjadi jika
posisi kopling sedang ditekan. Skema aliran arusnya seperti
digambarkan oleh tanda panah yang terlihat pada gambar 3.37 di
bawah ini: Untuk lebih jelas lagi aliran arusnya berdasarkan
gambar 3.37 tersebut adalah sebagai berikut:

Baterai —— main switch —— safety relay —–clutch switch —-massa.

Baterai —— main switch —— safety relay —– starter relay ——
starter switch —— massa.

Baterai —— plat kontak starter relay —– motor starter —– massa
(sehingga motor starter berputar).

Gambar 3.37 Aliran arus listrik menuju motor starter
saat kopling ditekan

c. Sistem Switch Sidestand (Standar Samping)
Sistem pengaman dengan sistem switch sidestand adalah sistem
yang digunakan pada sepeda motor yang menggunakan
kombinasi tiga sistem, yaitu sistem starter, sidestand, dan sistem
pengapian. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan agar
posisi sidestand sudah benar-benar diangkat/dikembalikan ke
posisinya (tidak digunakan untuk posisi menyandarkan sepeda
motor) sebelum motor dihidupkan/dijalankan. Ada beberapa
kondisi yang berkaitan dengan sistem pengaman ini, yaitu:
1) Jika posisi sidestand sedang diturunkan/digunakan untuk
menyandarkan sepeda motor, motor starter tidak akan bisa
dihidupkan saat pengendara menekan starter switch.
Kalaupun pengendara mencoba menghidupkan dengan kick

starter (bukan sistem starter listrik), sistem pengapian tidak
akan hidup kecuali posisi gigi transmisi netral.

2) Sistem pengapian akan hidup jika posisi transmisi netral atau
posisi transmisi selain netral tapi kopling ditekan.

3)
Jika sidestand dicoba diturunkan kembali setelah mesin hidup,
pengapian akan mati (off) dan mesin akan mati sesaat ketika
koplingnya ditarik dan gigi transmisi diganti dari posisi netral.

O. SISTEM PENGISIAN (CHARGING SYSTEM)
Sistem kelistrikan sepeda motor seperti; sistem starter, sistem
pengapian, sistem penerangan dan peralatan instrumen kelistrikan
lainnya membutuhkan sumber listrik supaya sistem-sistem tersebut bisa
berfungsi. Energi listrik yang dapat disuplai oleh baterai sebagai sumber
listrik (bagi sepeda motor yang dilengkapi baterai) jumlahnya terbatas.
Sumber listrik dalam baterai tersebut akan habis jika terus menerus
dipakai untuk menjalankan (mensuplai) sistem kelistrikan pada sepeda
tersebut. Untuk mengatasi hal-hal tadi, maka pada sepeda motor
dilengkapi dengan sistem pengisian (charging system).

Secara umum sistem pengisian berfungsi untuk menghasilkan
energi listrik supaya bisa mengisi kembali dan mempertahankan kondisi
energi listrik pada baterai tetap stabil. Disamping itu, sistem pengisian
juga berfungsi untuk menyuplai energi listrik secara langsung ke sistemsistem
kelistrikan, khususnya bagi sepeda motor yang menggunakan
flywheel magneto (tidak dilengkapi dengan baterai). Bagi sebagian
sepeda motor yang dilengkapi baterai juga masih ada sistem-sistem
(seperti sistem lampu-lampu) yang langsung disuplai dari sistem
pengisian tanpa lewat baterai terlebih dahulu.

Komponen utama sistem pengisian adalah generator atau
alternator, rectifier (dioda), dan voltage regulator. Generator atau
alternator berfungsi untuk menghasilkan energi listrik, rectifer untuk
menyearahkan arus bolak-balik (AC) yang dihasilkan alternator menjadi
arus searah (DC), dan voltage regulator berfungsi untuk mengatur
tegangan yang disuplai ke lampu dan mengontrol arus pengisian ke
baterai sesuai dengan kondisi baterai.

1. Prinsip Kerja Generator
Induksi Listrik
Gambar 3.38 Prinsip terjadinya Induksi listrik

Bila suatu kawat penghantar dililitkan pada inti besi, lalu
didekatnya digerak-gerakkan sebuah magnet, maka akan timbul energi
listrik pada kawat tersebut (jarum milivoltmeter bergerak).

Timbulnya energi listrik tersebut hanya terjadi saat ujung magnet
mendekati dan menjauhi inti besi. Induksi listrik terjadi bila magnet dalam
keadaan bergerak. Saat ujung magnet mendekati inti besi, garis gaya
magnet yang mempengaruhi inti besi akan menguat, dan sebaliknya.
Perubahan kekuatan garis gaya magnet inilah yang menimbulkan induksi
listrik.

Aplikasi Induksi Listrik

Gambar 3.39 Posisi kawat penghantar pada 0o

Pada gambar di atas, batang kawat dibentuk sedemikian rupa,
ditopang oleh sebuah shaff (poros), dan pada ujung-ujungnya dilengkapi
dengan cincin yang disebut komutator. Melalui komutator dan brush
(sikat), dihubungkan seutas kabel. Kawat penghantar diletakkan di antara
dua kutub magnet yang tarik menarik (kutub U dan S). Berdasarkan
gambar di atas, kawat penghantar berada pada posisi terjauh dari
magnet. Oleh karena itu, kawat penghantar belum mendapat pengaruh
dari garis gaya magnet.

Gambar 3.40 Posisi kawat penghantar pada 90o

Pada gambar 3.40 di atas, kawat penghantar melalui daerah
dengan medan magnet terkuat karena berada pada posisi terdekat
dengan magnet. Saat ini terbangkitkan energi listrik dengan tegangan
tertinggi, yang membuat bola lampu menyala paling terang.

Gambar 3.41 Posisi kawat penghantar pada 180o

Pada gambar di atas, saat kawat penghantar telah mencapai posisi
tegak kembali, kawat tidak mendapat pengaruh medan magnet karena
kembali berada pada posisi terjauh dari magnet. Saat ini tidak terbangkit
energi listrik di dalam kawat penghantar, dan lampu padam.

2. Persyaratan yang harus Dipenuhi Sistem Pengisian
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa fungsi sistem
pengisian secara umum adalah untuk menghasilkan energi listrik supaya
bisa mengisi kembali dan mempertahankan kondisi energi listrik pada
baterai tetap stabil. Disamping itu, sistem pengisian juga berfungsi untuk
menyuplai energi listrik secara langsung ke sistem-sistem kelistrikan,
khususnya bagi sepeda motor yang menggunakan flywheel magneto
(tidak dilengkapi dengan baterai).

Berdasarkan fungsi di atas, maka sistem pengisian yang baik
setidaknya memenuhi persyaratan berikut ini:

a.
Sistem pengisian harus bisa mengisi (menyuplai) listrik dengan
baik pada berbagai tingkat/kondisi putaran mesin.
b.
Sistem pengisian harus mampu mengatur tegangan listrik yang
dihasilkan agar jumkah tegangan yang diperlukan untuk sistem
kelistrikan sepeda motor tidak berlebih (overcharging).
3. Tipe Generator
Generator yang dipakai pada sistem pengisian sepeda motor
dibedakan menjadi dua, yaitu generator arus searah (DC), dan generator
arus bolak-balik (AC). Yang termasuk ke dalam generator AC antara lain;
generator dengan flywheel magnet dan alternator AC 3 Phase.

a. Generator DC
Prinsip kerja dari generator DC sama dengan pada motor starter
yang telah di bahas pada bagian motor starter. Dalam hal ini, jika
diberikan arus listrik maka akan berfungsi sebagai motor dan jika
diputar oleh gaya luar maka akan berfungsi menjadi generator.
Oleh karena itu, generator tipe ini sering juga disebut dinamo
starter atau self starter dinamo.
Terdapat dua jenis kumparan dalam stator, yaitu seri field coil
(terhubung dengan terminal relay starter) dan shunt field coil
(terhubung dengan regulator sistem pengisian). Ilustrasi
rangkaiannya adalah seperti terlihat pada gambar 3. .42 di bawah
ini :

Cara Kerja Sistem Pengisian Tipe Generator DC (Self Starter
Dinamo)
Pada saat starter switch (saklar starter) dihubungkan, arus akan
mengalir dari relay starter ke seri field coil terus ke armature coil
dan berakhir ke massa. Motor akan berputar untuk
memutarkan/menghidupkan mesin. Setelah mesin hidup, kontak
pada relay starter diputuskan (starter switch tidak lagi ditekan),
sehingga tidak ada lagi arus yang mengalir ke seri field coil.

Akibatnya motor berubah fungsi menjadi generator karena
armature coil saat ini menghasilkan arus listrik yang disalurkan ke
regulator pengisian melewati shunt field coil.

Gambar 3.42 Rangkaian sistem pengisian dengan
tipe generator DC (dinamo starter)

Sistem pengisian dengan generator DC tidak secara luas
digunakan pada sepeda motor karena tidak dapat menghasilkan gaya
putar/engkol yang tinggi serta agak kurang efisien sebagai fungsi
generatornya. Salah satu contoh yang menggunakan tipe ini adalah
mesin dua langkah (yamaha RD200).

b. Generator AC
1) Generator dengan Flywheel Magnet (Flywheel Generator)
Generator dengan flywheel magnet sering disebut sebagai
alternator sederhana yang banyak digunakan pada scooter dan
sepeda motor kecil lainnya. Flywheel magnet terdiri dari stator
dan flywheel rotor yang mempunyai magnet permanen. Stator
diikatkan ke salah satu sisi crankcase (bak engkol). Dalam
stator terdapat generating coils (kumparan pembangkit listrik).

Gambar 3. 43 Contoh konstruksi flywheel generator

1. Komponen-komponen flywheel generator 2. Flywheel rotor
3. Komponen-komponen stator 4. Stator plate (piringan stator)
5. Seperangkat contact breaker (platina) 6. Condenser (kapasitor)
7. Lighting coil (spool lampu) 8. Ignition coil (koil pengapian)
Catatan : Pada gambar ini ignition coil termasuk bagian dari komponen stator. Pada
mesin lainnya kemungkinan digunakan external coil, karenanya ignition
coil dalam flywheel generator diganti dengan ignition source coil yang
bentuknya hampir sama dengan lighting coil.

Terdapat beberapa tipe aplikasi/penerapan pada rangkaian
sistem pengisian sepeda motor yang menggunakan generator
AC dengan flywheel magnet ini, diantaranya;
a) Sepeda motor yang keseluruhan sistem kelistrikannya

menggunakan arus AC sehingga tidak memerlukan rectifier
untuk mengubah output pengisian menjadi arus DC.

b) Sepeda motor yang sebagian sistem kelistrikannya masih
menggunakan arus AC (seperti headlight lamp/lampu
kepala, tail light/lampu belakang, dan meter lamp) dan
sebagian kelistrikan lainnya menggunakan arus DC (seperti
horn/klakson, turn signal lamp/lampu sein). Rangkaian
sistem pengisiannya sudah dilengkapi dengan rectifier dan
regulator. Rectifier digunakan untuk mengubah sebagian
output pengisian menjadi arus DC yang akan dialirkannya
ke baterai. Regulator digunakan untuk mengatur tegangan
dan arus AC yang menuju ke sistem penerangan dan
tegangan dan arus DC yang menuju baterai.

Gambar. 3.44 Rangkaian sistem pengisian
dengan generator AC yang dilengkapi
rectifier dan voltage Regulator

Berdasarkan gambar 3.44 di atas, regulator akan bekerja
mengatur arus dan tegangan pengisian yang masuk ke baterai
dan mengatur tegangan yang masuk ke lampu supaya
mendekati tegangan yang konstan supaya lampu tidak
cenderung berkedip. Pengaturan tegangan dan arus tersebut
berdasarkan peran utama ZD (zener dioda) dan SCR
(thyristor). Jika tegangan dalam sistem telah mencapai
tegangan tembus (breakdown voltage) maka tegangan yang
berlebih akan dialirkan ke massa. ZD yang dipasang umumnya
mempunyai tegangan tembus sebesar 14V. Untuk lebih
memahami cara kerja ZD dan SCR tersebut, perhatikan
gambar 3.45 di bawah ini:

Gambar 3. 45 Rangkaian sistem pengisian yang
dilengkapi voltage regulator dan rectifier

Cara Kerja Sistem Pengisian Generator AC

Arus AC yang dihasilkan alternator disearahkan oleh rectifier
dioda. Kemudian arus DC mengalir untuk mengisi baterai. Arus
juga mengalir menuju voltage regulator jika saklar untuk
penerangan (biasanya malam hari) dihubungkan. Pada kondisi
siang hari, arus listrik yang dihasilkan lebih sedikit karena tidak
semua kumparan (coil) pada alternator digunakan.
Pada saat tegangan dalam baterai masih belum mencapai
tegangan maksimum yang ditentukan, ZD masih belum aktif
(off) sehingga SCR juga belum bekerja. Setelah tegangan yang
dihasilkan sistem pengisian naik seiring dengan naiknya
putaran mesin, dan telah mencapai tegangan tembus ZD,
maka ZD akan bekerja dari arah kebalikan (katoda ke anoda)
menuju gate pada SCR.
Selanjutnya SCR akan bekerja mengalirkan arus ke massa.
Saat ini proses pengisian ke baterai terhenti. Ketika tegangan
baterai kembali menurun akibat konsumsi arus listrik oleh
sistem kelistrikan (misalnya untuk penerangan) dan telah
berada di bawah tegangan tembus ZD, maka ZD kembali
bersifat sebagai dioda biasa. SCR akan menjadi off kembali
sehingga tidak ada aliran arus yang di buang ke massa.
Pengisian arus listrik ke baterai kembali seperti biasa. Begitu
seterusnya proses tadi akan terus berulang sehingga pengisian
baterai akan sesuai dengan yang dibutuhkan. Inilah yang
dinamakan proses pengaturan tegangan pada sistem pengisian
yang dilakukan oleh voltage regulator.

Alternator satu phase (single-phase alternator) merupakan
alternator yang menghasilkan arus AC satu gelombang,
masing-masing setengah siklus (180o) untuk gelombang positif
dan negatifnya (gambar 3.46 bagian A). Jika disearahkan
hanya dengan satu buah dioda, maka hanya akan
menghasilkan setengah gelombang penuh (gambar 3.46
bagian B). Untuk itu pada rangkaian sistem pengisian yang
menggunakan alternator, dipasangkan rectifier (dioda)
setidaknya 4 buah untuk menyearahkan arus yang menuju
baterai, sehingga bisa menghasilkan gelombang penuh pada
sisi positifnya walau hanya menggunakan alternator satu phase
(gambar 3.46 bagian C).

Gambar 3.46 Gelombang arus yang keluar dari alternator

Gambar 3.47 Sebuah dioda (A) dan empat buah dioda (B)

Gambar 3.48 Contoh tipe alternator 1 phase

2)
Alternator AC 3 Phase
Perkembangan terakhir dari alternator yang digunakan pada
sepeda motor adalah dengan merubah alternator dari satu
phase menjadi 3 phase (3 gelombang). Alternator ini umumnya
dipakai pada sepeda motor ukuran menengah dan besar yang
sebagian besar telah menggunakan sistem starter listrik
sebagai perlengkapan standarnya. Output (keluaran) listrik dari
alternator membentuk gelombang yang saling menyusul,
sehingga outputnya bisa lebih lembut dan stabil. Hal ini akan
membuat output listriknya lebih tinggi dibanding alternator satu
phase.
Salah satu tipe alternator 3 phase yaitu alternator tipe magnet
permanen, yang terdiri dari magnet permanen, stator yang
membentuk cincin dengan generating coils (kumparan
pembangkit) disusun secara radial dibagian ujung luarnya, dan
rotor dengan kutub magnetnya dilekatkan didalamnya. Tipe
lainnya dari alternator 3 phase adalah yang menggunakan
elektromagnet seperti alternator pada mobil.

Gambar 3.49 Alternator 3 phase tipe
magnet permanen

Gambar 3.50 Alternator 3 phase tipe elekromagnetik

Alternator tipe elektromagnetik terdiri dari komponen

komponen :

a)
Stator coil: kumparan yang dibentuk dalam hubungan
delta atau bintang yang bertindak sebagai medium
terjadinya pembangkitan arus listrik di dalam alternator.
Stator coil statis terhadap housing (tidak berputar).

b)
Rotor coil: merupakan kumparan elektromagnet untuk
membangkitkan gaya magnet yang akan memotong stator
coil selama berputar hingga menghasilkan arus listrik.
Rotor coil membangkitkan kemagnetan pada claw pole
selama mendapat suplai listrik dari baterai (arus listrik
eksitasi).

c)
Claw pole : merupakan kutub-kutub inti kumparan rotor
(rotor coil) yang dibentuk sedemikian rupa hingga
dihasilkan gaya magnet yang lebih kuat dan
terkonsentrasi. Tiap sisi dari claw pole menghasilkan kutub
yang berbeda.

d)
Brush dan slip ring: sebagai jalur masuk dan keluarnya
arus listrik eksitasi (pemicu) menuju rotor coil. Dengan
cara ini, arus listrik dari baterai dapat disalurkan ke dalam
rotor coil selama rotor berputar.

Pengaturan tegangan dan penyearahan arus pada sistem
pengisian alternator 3 phase pada prinsipnya sama dengan
sistem pengisian alternator satu phase seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya. Namun dalam alternator 3 phase
disamping menggunakan pengaturan tegangan (voltage
regulator) secara elektronik menggunakan transistor dan zener
diode, juga ada yang menggunakan voltage regulator mekanik
(menggunakan contact point/platina).

P. SISTEM PENGAPIAN (IGNITION SYSTEM)
Sistem pengapian merupakan salah satu sistem kelistrikan yang
sangat penting dalam sepeda motor. Penjelasan lebih rinci tentang
sistem pengapian ini dijelaskan dalam Bab tersendiri, yaitu pada Bab IV

Q. SISTEM PENERANGAN (LIGHTING SYSTEM)
Suatu sistem yang tidak kalah pentingnya dalam sepeda motor
adalah sistem penerangan. Sistem penerangan sangat diperlukan untuk
keselamatan pengendaraan, khususnya di malam hari dan juga untuk
memberi isyarat/tanda pada kendaraan lainnya. Sistem penerangan pada
sepeda motor dibagi menjadi dua fungsi, yaitu; 1) sebagai penerangan
(illumination) dan 2) sebagai pemberi isyarat/peringatan
(signalling/warning).

Yang termasuk ke dalam fungsi penerangan antara lain:

1.
Headlight (lampu kepala/depan)
2.
Taillight (lampu belakang),
3.
Instrument lights (lampu-lampu instrumen).
Sedangkan yang termasuk ke dalam fungsi pemberi isyarat antara
lain;

1.
Brake light (lampu rem)
2.
Turn signals (lampu sein/tanda belok),
3.
Oil pressure dan level light (lampu tanda tekanan dan level oil)
4.
Netral light (lampu netral untuk transmisi/perseneling)
5.
Charging light (lampu tanda pengisian). Tidak semua sepeda
motor dilengkapi charging light.
6.
Untuk sistem yang lebih komplit, misalnya pada sepeda motor
dengan sistem bahan bakar tipe injeksi (EFI) , kadang-kadang
terdapat juga hazard lamp (lampu hazard/tanda bahaya), low fuel

warnig (pemberi peringatan bahan bakar sudah hampir kosong),
temperature warning (pemberi peringatan suhu), electronic fault
warning (pemberi peringatan terjadinya kesalahan/masalah pada
komponen elektronik), dan sebagainya.

Contoh penempatan sistem penerangan (lighting system), baik
yang berfungsi sebagai penerangan maupun pemberi isyarat adalah
seperti pada gambar 3.51 di bawah ini:

Gambar 3.51 Penempatan sistem penerangan pada
salah satu sepeda motor

1. Lampu Kepala/Besar (Headlight)
Fungsi lampu kepala adalah untuk menerangi bagian depan dari
sepeda motor saat dijalankan pada malam hari. Selain kabel dan
konektor (sambungan), komponen-komponen sistem lampu kepala
antara lain (lihat gambar 3.51) :

a.
Saklar lampu (lighting swicth)
Saklar lampu berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan
lampu. Pada umumnya saklar lampu pada sepeda motor terdapat
tiga posisi, yaitu; 1) posisi OFF (posisi lampu dalam keadaan
mati/tidak hidup); 2) posisi 1 (pada posisi ini lampu yang hidup
adalah lampu kota/jarak baik depan maupun belakang), dan 3)
posisi 2 (pada posisi ini lampu yang hidup adalah lampu
kepala/besar dan lampu kota.

b.
Saklar lampu Kepala (dimmer switch)
Saklar lampu kepala berfungsi untuk memindahkan posisi lampu
kepala dari posisi lampu dekat ke posisi lampu jauh aau
sebaliknya. Posisi lampu dekat biasanya digunakan untuk saat
berkendara dalam kota, sedangkan posisi lampu jauh digunakan
saat berkendara ke luar kota selama tidak ada kendaraan lain dari
arah berlawanan atau ada kendaraan lain dari arah berlawanan
namun jaraknya masih cukup jauh dari kita.

c.
Bola lampu kepala (beam)
Terdapat dua tipe lampu besar atau lampu kepala (headlight),
yaitu; 1) tipe semi sealed beam, dan 2) tipe sealed beam. Lampu
kepala biasanya menggunakan low filament beam untuk posisi
lampu dekat dan high filament beam untuk posisi lampu jauh.
Penjelasan kapan saatnya menggunakan lampu dekat dan lampu
jauh sudah dibahas pada bagian saklar lampu kepala.

1) Tipe Semi Sealed Beam

Tipe semi sealed beam adalah suatu konstruksi lampu yang
dapat mengganti dengan mudah, dan cepat bola lampunya
(bulb) tanpa memerlukan penggantian secara keseluruhan jika
bola lampunya terbakar atau putus.
Bola lampu yang termasuk tipe semi sealed beam adalah:

a)
Bola lampu biasa (filament tipe Tungsten)

Bola lampu biasa adalah bola lampu yang menggunakan
filamen (kawat pijar) tipe tungsten. Bola lampu jenis ini
mempunyai keterbatasan yaitu tidak bisa bekerja di atas
suhu yang telah ditentukan karena filamen bisa menguap.
Uap tersebut bisa menimbulkan endapan yaitu
membentuk lapisan seperti perak di rumah lensa kacanya
(envelope) dan pada akhirnya bisa mengurangi daya
terang lampu tersebut (menjadi suram).

Gambar 3.52 Konstruksi bola lampu tungsten

b) Bola lampu quartz-halogen
Pada bola lampu quartz-halogen, gas halogen tertutup
rapat didalam tabungnya, sehingga bisa terhindar dari efek
penguapan yang terjadi akibat naiknya suhu. Bola lampu
halogen cahayanya lebih terang dan putih dibanding bola
tungsten, namun lebih sensitif terhadap perubahan suhu.

Gambar 3.53 Konstruksi bola lampu halogen

Bola lampu quartz-halogen lebih panas dibandingkan
dengan bola lampu biasa (tungsten) saat digunakan. Masa
pakai lampu akan lebih pendek jika terdapat oli atau
gemuk yang menempel pada permukaannya. Selain itu,
kandungan garam dalam keringat manuasia dapat
menodai kacanya (quartz envelope). Oleh karena itu, bila
hendak mengganti bola lampu hindari jari-jari menyentuh
quartz envelope. Sebaiknya pegang bagian flange jika
hendak menggantinya.

2)
Tipe Sealed BeamPada beberapa model sepeda motor generasi sebelumnya,
lampu kepalanya menggunakan tipe sealed beam. Tipe ini
terdiri dari lensa (glass lens), pemantul cahaya (glass
reflector), filamen dan gas di dalamnya. Jika ada filamen yang
rusak/terbakar, maka penggantiannya tidak dapat diganti
secara tersendir, tapi harus keseluruhannya.

Gambar 3.54 Konstruksi bola lampu tipe sealed beam

2.
Lampu Belakang dan Rem (Tail light dan Brake light)
Lampu belakang berfungsi memberikan isyarat jarak sepeda
motor pada kendaraan lain yang berada di belakangnya ketika malam
hari. Lampu belakang pada umumnya menyala bersama dengan lampu
kecil yang berada di depan. Lampu ini sering disebut dengan lampu kota,
bahkan kadang-kadang disebut lampu senja karena biasanya sudah
mulai dinyalakan sebelum hari terlalu gelap. Untuk bagian depan disebut
lampu jarak (clereance light) dan untuk bagian belakang disebut lampu
belakang (tail light).

Sedangkan rem berfungsi untuk memberikan isyarat pada
kendaraan lain agar tidak terjadi benturan saat kendaraan mengerem.
Lampu rem pada sepeda motor biasanya digabung dengan lampu
belakang. Maksudnya dalam satu bola lampu terdapat dua filamen, yaitu
untuk lampu belakang dan lampu rem (lihat gambar 3.54 di bawah ini).
Lampu yang menyalanya lebih redup (diameter kawat filament-nya lebih
kecil) untuk lampu belakang dan lampu yang menyalanya lebih terang
(diameter kawat filament-nya lebih besar) untuk lampu rem.

Gambar 3.55 Posisi bola lampu belakang dan rem

Komponen-komponen untuk sistem lampu belakang selain kabelkabel
dan konektor antara lain (lihat gambar 3.51):

a.
Saklar lampu (lighting switch)
Penjelasan saklar lampu sudah dibahas pada bagian lampu
kepala.

b.
Lampu belakang dan dudukannya
Seperti terlihat pada gambar 3.55 di atas, bola lampu belakang
digabung langsung dengan bola lampu rem. Pemasangan bola
lampu belakang biasanya disebut dengan tipe bayonent yaitu
menempatkan bola lampu pada dudukannya, dimana posisi pasak
(pin) pada bola lampu harus masuk pada alur yang berada pada
dudukannya.
Komponen-komponen untuk sistem lampu rem selain kabel-kabel
dan konektor antara lain (lihat gambar 3.51):

a.
Saklar lampu rem depan (front brake light switch)
Saklar lampu rem depan berfungsi untuk .menghubungkan arus
dari baterai ke lampu rem jika tuas/handel rem ditarik (umumnya
berada pada stang/kemudi sebelah kanan). Dengan menarik tuas
rem tersebut, maka sistem rem bagian depan akan bekerja, oleh
karena itu lampu rem harus menyala untuk memberikan
isyarat/tanda bagi pengendara lainnya.
b.
Saklar lampu rem belakang (rear brake light switch)
Saklar lampu rem belakang berfungsi untuk .menghubungkan
arus dari baterai ke lampu rem jika pedal rem ditarik (umumnya
berada pada dudukan kaki sebelah kanan). Dengan menginjak
pedal rem tersebut, maka sistem rem bagian belakang akan
bekerja, oleh karena itu lampu rem harus menyala untuk
memberikan isyarat/tanda bagi pengendara lainnya.
c.
Lampu rem dan dudukannya
Seperti terlihat pada gambar 3.55 di atas, bola lampu belakang
digabung langsung dengan bola lampu rem. Pemasangan bola
lampu belakang biasanya disebut dengan tipe bayonent yaitu
menempatkan bola lampu pada dudukannya, dimana posisi pasak
(pin) pada bola lampu harus masuk pada alur yang berada pada
dudukannya.
3.
Sistem Lampu Sein/Tanda Belok (Turn Signals System)
Semua sepeda motor yang dipasarkan dilengkapi dengan sistem
lampu tanda belok. Pada beberapa model sepeda motor besar,
dilengkapi saklar terpisah lampu hazard (tanda bahaya), yaitu dengan
berkedipnya semua lampu sein kiri, kanan, depan dan belakang secara
bersamaan.

Fungsi lampu tanda belok adalah untuk memberikan isyarat pada
kendaraan yang ada di depan, belakang ataupun di sisinya bahwa
sepeda motor tersebut akan berbelok ke kiri atau kanan atau pindah jalur.
Sistem tanda belok terdiri dari komponen utama, yaitu dua pasang lampu,

sebuah flasher/turn signal relay, dan three-way switch (saklar lampu
tanda belok tiga arah).

Flasher tanda belok merupakan suatu alat yang menyebabkan
lampu tanda belok mengedip secara interval/jarak waktu tertentu yaitu
antara antara 60 dan 120 kali setiap menitnya. Terdapat beberapa tipe
flasher, diantaranya; 1) flasher dengan kapasitor, 2) flasher dengan
bimetal, dan 3) flasher dengan transistor.

a. Sistem Tanda Belok dengan Flasher Tipe Kapasitor
Contoh rangkaian sistem tanda belok dengan flasher tipe
kapasitor seperti terlihat di bawah ini:

Gambar 3.56 Rangkaian sistem tanda belok
dengan flasher tipe kapasitor

Cara kerja sistem tanda belok dengan flasher tipe kapasitor

Pada saat kunci kontak dihubungkan, namun saklar lampu sein
masih dalam posisi ‘off”, arus mengalir ke L2 melalui plat kontak P
kemudian mengisi kapasitor. Setelah saklar lampu sein diarahkan
ke salah satu lampu, arus kemudian juga mengalir ke L1 terus ke
lampu tanda belok sehingga lampu menyala. Saat ini L1 menjadi
magnet (gambar 3.57)

Gambar 3.57 Cara kerja rangkaian sistem tanda belok
dengan flasher tipe kapasitor (1)

Sesaat setelah kumparan L1 menjadi magnet, plat kontak (contact
point) P terbuka, sehingga arus yang mengalir ke lampu kecil
karena melewati tahanan R. Plat kontak tetap dalam kondisi
terbuka selama kumparan L2 masih menjadi magnet yang
diberikan oleh kapasitor sampai muatan dalam kapasitor habis
(gambar 3.58).

Gambar 3.58 Cara kerja rangkaian sistem tanda belok
dengan flasher tipe kapasitor (2)

Setelah muatan kapasitor habis, kemagnetan pada kumparan
hilang dan plat kontak akan menutup kembali. Arus yang besar
mengalir kembali ke lampu sehingga lampu akan menyala dan
juga terjadi pengisian ke dalam kapasitor. Begitu seterusnya
proses ini berulang sehingga lampu tanda belok berkedip.

b.
Sistem Tanda Belok dengan Flasher Tipe BimetalSistem tanda belok tipe ini yaitu dengan mengandalkan kerja dari
dua keping/bilah (strip) bimetal untuk mengontrol kedipannya.
Bimetal terdiri dari dua logam yang berbeda (biasanya kuningan
dan baja) yang digabung menjadi satu. Jika ada panas dari aliran
listrik yang masuk ke bimetal, maka akan terjadi
pengembangan/pemuaian dari logam yang berbeda tersebut
dengan kecepatan yang berbeda pula. Hal ini akan menyebabkan
bimetal cenderung menjadi bengkok ke salah satu sisi.
Dalam flasher tipe bimetal terdapat dua keping bimetal yang
dipasang berdekatan dan masing-masing mempunyai plat kontak
pada salah satu ujungnya (lihat gambar 3.59 di bawah ini).

Gambar 3.59 Konstruksi bimetal

Gambar 3.60 Rangkaian sistem tanda belok
dengan tipe bimetal

Cara kerja sistem tanda belok dengan flasher tipe bimetal

Pada saat saklar lampu sein digerakan (ke kiri atau kanan), arus
mengalir ke voltage coil (kumparan) yang akan membuat
kumparan tersebut memanas dan bengkok. Setelah
kebengkokannya sampai menghubungkan kedua plat kontak di
bagian ujungnya, arus kemudian mengalir ke current coil
(kumparan arus) terus ke lampu sein/tanda belok dan akhirnya ke
massa (gambar 3.61). Saat ini lampu sein menyala dan current
coil akan mulai bengkok menjauhi voltage coil.

Gambar 3.61 Cara kerja rangkaian sistem tanda
belok dengan tipe bimetal

Setelah kebengkokan current coil membuat plat kontak
terpisah/terbuka, maka lampu sein mati. Selanjutnya current coil
akan menjadi dingin setelah arus yang mengalir hilang dan
akhirnya bimatalnya akan lurus kembali posisinya sehingga plat
konta menempel kembali dengan plat kontak yang dari voltage
coil. Arus akan mengalir kembali untuk menghidupkan lampu sein.
Begitu seterusnya proses ini berulang sehingga lampu tanda
belok berkedip.

c.
Sistem Tanda Belok dengan Flasher Tipe Transistor
Sistem tanda belok dengan flasher menggunakan transistor
merupakan tipe flasher yang pengontrolan kontaknya tidak secara
mekanik lagi, tapi sudah secara elektronik. Sistem ini
menggunakan multivibrator oscillator untuk menghasilkan pulsa
(denyutan) ON-OFF yang kemudian akan diarahkan ke flasher
(turn signal relay) melawati amplifier (penguat listrik). Selanjutnya
flasher akan menghidup-matikan lampu tanda belok agar lampu
tersebut berkedip.

Gambar 3.62 Rangkaian sistem tanda belok
dengan tipe transistor

4. Klakson (Horn)
Fungsi klakson adalah untuk memberikan isyarat dengan bunyi
atau suara yang ditimbulkannya. Terdapat beberapa tipe klakson, yaitu;
1) Klakson listrik, 2) klakson udara, dan 3) klakson hampa udara.

Klakson listrik terdiri atas diafragma (diaphragm), lilitan kawat
(coil), kontak platina (contact), dan pemutus (armature). Konstruksi
klakson listrik seperti diperlihatkan pada gambar 3. 63 dibawah ini.

Gambar 3.63 Konstruksi klakson listrik

Klakson yang banyak digunakan pada sepeda motor adalah
klakson listrik . Salah satu contoh rangkaian sistem klakson listrik adalah
seperti terlihat pada gambar 3.64 di bawah ini :

Gambar 3.64 Rangkaian klakson listrik

Cara kerja klakson listrik

Saat saklar klakson ditekan, arus dari baterai mengalir melalui
saklar klakson, terus ke coil (solenoid), menuju platina dan selanjutnya ke
massa. Solenoid menjadi magnet dan menarik armature. Kemudian
armature membukakan platina sehingga arus ke massa terputus.

Dengan terputusnya arus tersebut, kemagnetan pada solenpid
hilang, sehingga armature kembali ke posisi semula. Hal ini
menyebabkan platina menutup kembali untuk menghubungkaan arus ke
massa. Proses ini berlangsung cepat, dan diafragma membuat armature
bergetar lebih cepat lagi, sehingga menghasilkan resonansi suara.

5.
Sistem Instrumentasi dan Tanda Peringatan (Instrumentation
and Warning System)
Yang dimaksud dengan instrumentasi adalah perlengkapan
sepeda motor berupa alat ukur yang memberikan informasi kepada
pengendara tentang keadaan sepeda motor tersebut. Sistem
instrumentasi pada sepeda motor tidak sama jumlahnya, mulai dari
sepeda motor dengan instrumentasi sederhana sampai sepeda motor
yang dilengkapi dengan instrumen yang banyak. Sistem instrumentasi
yang lengkap antara lain terdiri dari; speedometer (pengukur kecepatan
kendaraan), tachometer (pengukur putaran mesin), ammeter (pengukur
arus listrik), voltmeter (pengukur tegangan listrik), clock (jam), fuel and
temperature gauges (pengukur suhu dan bahan bakar), oil pressure
gauge (pengkur tekanan oli) dan sebagainya.

Sama halnya dengan sistem instrumentasi, sistem tanda
peringatan (warning system) pada sepeda motor juga tidak sama
jumlahnya. Kebanyakan model sepeda motor generasi sekarang, lampulampu
tanda peringatan disusun dan dipasangkan pada suatu tampilan
(display) lengkap yang akan menampilkan status/keadaan dan kondisi
umum dari mesin.

Pada beberapa model, instrumentasi di dihubungkan dengan
central control unit (unit pengontrol) yang akan memonitor seluruh aspek
dari mesin dan fungsi sistem kelistrikan saat mesin dijalankan.
Informasinya diperoleh dari berbagai swicth (saklar) dan sensor. Jika
dalam sistem muncul kesalahan (terdapat masalah) akan ditampilkan
dalam bentuk warning light (lampu tanda peringatan) atau dalam panel
LCD (liquid crystal display) bagi beberapa model sepeda motor.

a. Speedometer
Speedometer adalah alat untuk memberikan informasi kepada
pengendara tentang kecepatan kendaraan (sepeda motor).
Speedometer pada sepeda motor ada yang digerakkan secara
mekanik, yaitu kawat baja (kabel speedometer) dan secara
elektronik. Speedometer yang digerakkan oleh kabel biasanya
dihubungkan ke gigi penggerak pada roda depan, tetapi ada juga
yang dihubungkan ke output shaft (poros output)
transmisi/persneling untuk mendapatkan putarannya.
Gambar 3.65 Contoh rangkaian
speedometer elektronik

Pada bagian speedometernya terdapat magnet permanen yang
diputar oleh kabel tersebut. Penunjukkan jarum kecepatan
berdasarkan atas kekuatan medan magnet yang berputar, dan
diterima oleh sebuah piringan besi non magnet yang dipasang
berhadapan dengannya.
Pada speedometer elektronik, sensor pulsa mengirimkan sinyal
setiap putaran yang diperoleh dari sproket depan atau output
shaft ke unit pengontrol. Hasilnya akan ditampilkan pada panel.

b.
Switch (Saklar) pada Sistem Tanda Peringatan
Saklar-sakar yang terdapat pada sistem tanda peringatan
umumnya digerakkan secara mekanik atau langsung digerakkan
secara manual (oleh tangan) untuk menghidup-matikan
(ONN/OFF) suatu sistem. Diantara saklar-saklar yang termasuk
ke dalam sistem tanda peringatan adalah:
1)
Neutral Switch (Saklar Netral)

Hampir semua sepeda motor dilengkapi dengan netral switch
(saklar yang menunjukkan gigi transmisi posisi sedang netral)
untuk mengontrol lampu peringatan pada panel instrumen.
Umumnya neutral switch diskrupkan ke rumah transmisi. Pada
saat gigi transmisi netral, kontak pada saklar akan tertekan
(tertutup) dan membuat lampu peringatan di-massa-kan
sehingga menyala.
Pada sepeda motor yang dilengkapi sistem pengaman, neutral
switch juga digunakan untuk mencegah sistem starter tidak
bisa dihidupkan jika posisi transmisi sedang masuk gigi
(penjelasan detil sudah dibahas pada bagian sistem starter
bagian 5 yaitu inovasi sistem starter).

2) Clutch switch (Saklar Kopling)
Clutch switch merupakan tipe plunger dan dipasang pada
bagian clutch lever (tuas kopling). Pada sepeda motor yang
dilengkapi sistem pengaman, clutch switch juga digunakan
untuk mencegah sistem starter tidak bisa dihidupkan jika
kopling tidak ditarik (penjelasan detil sudah dibahas pada
bagian sistem starter bagian 5 yaitu inovasi sistem starter).

3) Sidestand switch (Saklar Standar samping)
Sidestand switch juga merupakan bagaian dari sistem
pengaman yang dirancang agar sepeda motor tidak bisa
dijalankan jika sidestand-nya sedang pada posisi
diturunkan/digunakan untuk menyandarkan sepeda motor
(penjelasan detil sudah dibahas pada bagian sistem starter
bagian 5 yaitu inovasi sistem starter). Tipe sidestand switch
bisa tipe plunger maupun rotari yang dipasangkan.

Secara sederhana kombinasi hubungan antara neutral switch,
clutch switch dan side stand switch yang berfungsi sebagai
pengaman dapat dilihat dalam gambar 3.66 di bawah ini:

Gambar 3.66 Rangkaian neutral, clutch,
dan sidestand switch

Berdasarkan gambar 3.66 di atas, dapat diambil kesimpulan
bahwa rangkaian starter relay pada sistem starter baru bisa
dihubungkan ke massa jika clutch switch dan kickdown switch
posisi menutup atau neutral switch saja yang menutup. Clucth
switch menutup jika kopling sedang ditarik, sidestand switch
menutup jika posisi sidestand sedang dinaikkan (tidak sedang
dipakai untuk menyandarkan sepdea motor). Sedangkan
neutral swicth menutup kalau posisi gigi transmisi sedang
netral (i transmisi tidak masuk gigi).

4) Brake light switch (saklar lampu rem)
Fungsi brake light switch adalah untuk menghidupkan lampu
rem ketika rem depan atau rem belakang sedang digunakan.
Saklar rem depan biasanya tipe pressure switch (saklar
tekanan) yang digerakkan oleh sistem hidrolik rem depan.
Sedangkan saklar rem belakang biasanya tipe plunger yang
digerakkan melalui pegas pedal rem belakang, dan dapat
distel sesuai ketinggian pedal dan jarak bebas rem.

Gambar 3.67 Saklar rem belakang (A = saklar rem belakang
tipe plunger, B = pegas, dan C = pedal rem)

Gambar 3.68 Rangkaian sistem lampu rem

Berdasarkan gambar di atas, jika pedal rem ditarik/ditekan,
maka saklar rem akan menutup yang akan menghubungkan
arus dari baterai ke massa melalui lampu rem. Akibanya
lampu rem akan menyala.

6.
Sumber Listrik Sistem Penerangan
Sumber listrik untuk sistem penerangan dapat dibedakan menjadi
beberapa tipe, diantaranya:

a.
Sumber Listrik AC dengan Pengontrolan pada Main Switch
(Saklar Utama)
Sistem penerangan pada tipe ini hampir semuanya menggunakan
arus listrik AC, kecuali peralatan pemberi isyarat (seperti lampu
sein). Sistem ini digunakan pada motor-motor kecil yang
menggunakan flywheel magnet (gambar 3.69).

Gambar 3.69 Rangkaian sistem penerangan dengan
sumber listrik AC dengan pengontrolan
pada main switch

Lampu-lampu akan menyala jika mesin sedang hidup dengan
posisi main switch (saklar utama) pada nomor II dan atau nomor

III. Pada sistem ini tidak ada pengaturan arus dan tegangan yang
keluar dari flywheel magnet. Oleh karena itu, pada kecepatan
rendah, output listrik terbatas dan lampu menyala agak suram.
Sedangkan pada kecepatan tinggi, lampu-lampu akan cenderung
lebih terang.

b. Sumber Listrik AC dan DC dengan Pengontrolan pada LampSwitch (Saklar Lampu)
Sistem penerangan tipe ini menggunakan sumber listrik DC dari
baterai untuk lampu sein, lampu belakang, dan lampu pada
dashboard. Sumber listrik AC digunakan untuk lampu kepala.

Gambar 3.70 Rangkaian sistem penerangan dengan sumber
listrik AC dengan pengontrolan pada main switch

Pengontrolan lampu-lampu dilakukan secara terpisah pada saklar
lampunya. Untuk lampu belakang, lampu sein, dan lampu
dashboard, bisa dihidup-matikan oleh saklar utama seperti terlihat
pada gambar 3.70 di atas.

c. Sumber Listrik AC dengan pengontrolan pada Regulator
Sistem penerangan dengan pengontrolan sumber listrik
menggunakan regulator dan penyearahan arus oleh rectifer
meupakan tipe yang banyak digunakan pada sepeda motor saat
ini. Arus dan tegangan yang keluar sumber listrik AC tersebut
digunakan untuk lampu kepala, lampu belakang, lampu rem,
lampu dashboard dan sebagainya. Namun dalam penggunaan
lampu-lampu tadi, tegangannya dikontrol oleh regulator sehingga
bisa memperpanjang umur pakainya.

161

Gambar 3.71 Rangkaian sistem penerangan dengan
sumber listrik AC yang dikontrol regulator

d. Sumber listrik DC
Sistem penerangan dengan sumber listrik DC banyak digunakan
pada sepeda motor sedang sampai besar. Semua lampu-lampu
sumber listriknya berasal dari baterai. Jika dihasilkan tegangan
yang lebih besar (misalnya pada putaran tinggi), daya listriknya
bisa langsung digunakan untuk sistem penerangan karena semua
output listriknya sudah dalam arus DC.

7. Peraturan Tentang Sistem Penerangan
Peraturan tentang sistem penerangan berbeda-beda antara satu
negara dengan lainnya, sehingga untuk model sepeda motor yang sama
bisa jadi sistem penerangannya dibuat berbeda jika akan dipasarkan
untuk negara yang berbeda. Misalnya untuk negara bagian Amerika dan
Kanada, tidak boleh ada saklar untuk penerangan. Lampu pada sistem
penerangan secara otomatis berasal dari ignition switch (kunci kontak),
tidak dapat dipisah, sehingga lampu-lampu otomatis menyala saat mesin
hidup (gambar 3.72). Untuk lampu sein, sering digunakan lampu yang
mempunyai dua filament. Lampu yang daya (watt) kecil akan tetap hidup
selama mesin hidup. Ketika tanda lampu sein diaktifkan, lampu yang
mempunyai daya lebih tinggi akan berkedip-kedip sebagai tanda bahwa
lampu sein sedang dihidupkan untuk memberi isyarat kepada
pengendara lainnya.

Gambar 3.72 Rangkaian sistem penerangan model
Amerika/Kanada (tidak dilengkapi saklar lampu)

Bagi negara-negara Eropa dan Asia, pada umumnya rangkaian
sistem penerangan dibuat dengan melengkapi saklar lampu setelah kunci
kontak. Dengan rangkaian seperti ini bisa memungkinkan sepeda motor
hidup tetapi sistem penerangan tidak hidup/menyala selama saklar
lampunya tidak diaktifkan. Ilustrasi rangkaian sistem penerangan model
Eropa dan Asia seperti terlihat pada gambar 3.73 di bawah ini:

Gambar 3.73 Rangkaian sistem penerangan model Eropa dan
sebagian Asia (dilengkapi dengan saklar lampu)

R. PEMERIKSAAN DAN PERBAIKAN SISTEM KELISTRIKAN
Pembahasan pemeriksaan dan perbaikan sistem kelistrikan
dijelaskan setelah selesai membahas secara keseluruhan bagian
kelistrikan sepeda motor. Pembahasan sistem kelistrikan masih berlanjut
sampai Bab IV (sistem pengapian), sedangkan pembahasan dan
pemeriksaan sistem kelistrikan dibahas pada Bab V.

SOAL-SOAL LATIHAN BAB III

1.
Bila tegangan baterai mobil 12 Volt dan seandainya dipasangkan
2 lampu kepala dengan daya masing-masing 45 Watt, maka
besarnya arus yang mengalir adalah…….
2.
Tiga komponen elektronika yang paling banyak digunakan pada
sistem kelistrikan sepeda motor adalah…….
3.
Perbedaan prinsip antara motor listrik dengan generator/alternator
adalah…….
4.
Jelaskan mengapa pada sebagian besar sepeda motor terdapat
sistem pengaman sistem starter!
5.
Sistem starter adalah kombinasi antara bagian mekanis dan
komponen elektris yang bekerja bersama-sama. Adapun
komponen dari sistem starter listrik pada sepeda motor terdiri dari;
6.
Apa efek yang akan ditimbulkan jika sistem pengisian pada
sepeda motor tidak dapat berfungsi dengan baik?
7.
Kenapa lampu jenis halogen tidak boleh disentuh dengan jari
tangan pada bagian envelope (tabung gelas kacanya)?
8.
Kenapa klakson diperlukan pada sepeda motor?
9.
Apa efeknya jika terjadi kesalahan pemasangan (tertukar) antara
terminal lampu belakang dengan lampu rem?
10. Sistem instrumen apa saja yang terdapat pada sepeda motor
sistem injeksi (EFI)?

Leave a Reply